“Kebenaran berjalan sendirian, kepalsuan beraninya keroyokan.” -Rio, Scj.
Yang hobi memancing pasti tahu, jika air jernih kemungkinan ikannya sedikit, sementara air keruh pasti banyak ikannya. Begitulah gambaran nyata hubungan manusia sekarang. Makin tulus dan bersih hati seseorang, kian sering dia harus hidup dalam kesendirian. Sebaliknya makin licik dan penuh tipu daya seseorang, anehnya kian banyak orang yang mendekat dan menyukainya.
Kata-kata palsu dan tipu muslihat yang manis itu terdengar jauh lebih indah di telinga. Yang jahat kadang menggoda, daripada yang baik. Setan sering bikin nyaman, sementara kebenaran bikin hati dan telinga ini tidak tenang.
Kebenaran itu tajam, jujur tak kenal kompromi, tulus itu tidak pakai drama, semua itu akan meruntuhkan relasi yang rapuh sejak awal. Itulah sebabnya mereka yang jujur, yang menolak bermuka dua, sering kali harus berjalan sendirian. Bukan karena mereka tidak bisa bergaul, melainkan karena mereka menolak untuk ikut menari dalam panggung sandiwara.
Jika hari ini kita merasa sepi, hanya karena memilih jujur dan hidup benar, jangan pernah berkecil hati. Lebih baik berjalan sendirian di dalam air yang jernih, daripada berenang dalam kerumunan di air yang kotor penuh kepalsuan. Ketenangan batin ini jauh lebih mahal daripada pengakuan. Jati diri lebih tinggi dari pada validasi.
Deo gratias.
Rm RP Rio, Scj

