Dalam suatu pengajaran-Nya, Yesus mengajak para ahli Taurat untuk merenungkan identitas Mesias secara mendalam. Menurut mereka, Mesias adalah anak Daud, karena memang berasal dari keturunan Raja Daud. Namun Yesus mengajukan pertanyaan yang membuat mereka terdiam: jika Mesias hanya anak Daud, mengapa Daud sendiri menyebut-Nya sebagai ‘Tuhan’-nya? Ini berarti Mesias bukan hanya penerus takhta Daud yang manusiawi, melainkan Dia yang memiliki martabat Ilahi. Yesus adalah keturunan Daud menurut daging, tapi juga Tuhan yang dinantikan Daud sendiri.
Yesus sebenarnya menunjukkan, bahwa mengenal Allah tidak cukup hanya dengan menguasai pengetahuan agama. Para ahli Taurat memiliki banyak pengetahuan tentang Kitab Suci, tapi mereka gagal memahami makna terdalam Sabda Tuhan yang mereka pelajari. Mereka kagum akan kebijaksanaan Yesus, tapi tidak mampu menerima kebenaran yang diwartakan-Nya. Kekaguman saja tidak cukup untuk jadi murid. Iman menuntut kerendahan diri untuk menerima terang Allah.
Raja Daud sendiri jadi teladan kerendahan hati. Meski seorang Raja besar yang disegani, ia mengakui, bahwa Mesias yang akan datang jauh lebih agung daripada dirinya. Daud tidak menjadikan dirinya pusat, melainkan mengarahkan pandangannya kepada Tuhan yang akan menyelamatkan umat-Nya. Sikap inilah yang membedakan hati seorang beriman dengan hati yang hanya mencari hormat dan pengakuan diri.
Dalam surat-surat Paulus, kita melihat contoh relasi yang indah antara seorang guru dan murid. Paulus membimbing Timotius bukan hanya dengan kata-kata, melainkan juga dengan teladan hidup. Timotius menerima pengajaran itu dengan kesetiaan dan ketaatan. Paulus menasihatinya agar tetap berpegang pada ajaran yang telah diterimanya dan tidak mudah terpengaruh oleh ajaran yang menyesatkan. Timotius percaya kepada Tuhan yang bekerja melalui bimbingan Paulus.
Relasi Paulus dan Timotius menunjukkan iman yang bertumbuh melalui pendampingan dan kesetiaan. Tidak cukup hanya mendengar Sabda Tuhan atau mengagumi pewarta-Nya. Kita dipanggil untuk menghidupi kebenaran yang telah kita terima. Timotius tidak hanya mendengarkan Paulus, tapi juga melaksanakan yang diajarkan kepadanya.
Tuhan mengajak kita untuk bertanya kepada diri sendiri: apakah kita hanya mengagumi Yesus, atau sungguh mengikuti-Nya? Apakah kita hanya mengetahui ajaran-Nya, atau berusaha melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari?
Semoga kita memiliki kerendahan hati yang sesungguhnya sebagai tanda iman yang benar.
“Ya, Tuhan, kuatkanlah iman kami kepada-Mu agar kami dapat menjadi tanda kehadiran dan karya-Mu di dalam dunia ini. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

