“Vita est brevis – hidup itu singkat.” -Rio, Scj.
Sambil menyeruput kopi, terlihat lalat capung beterbangan lincah nan indah. Pernahkah kita berpikir bahwa hidup itu singkat. Mungkin kita perlu mengenal hewan yang satu ini Mayfly atau lalat capung. Hewan ini hidup cuma sehari. Selama 24 jam mereka harus terbang untuk cari pasangan, bertelur dan melanjutkan keturunan. Setelah itu mereka akan mati. Mempercayakan spesies kepada generasi berikutnya. Telur yang dihasilkan akan menetap di dalam air nyaris selama satu tahun, menunggu datangnya hari sampai mereka menetas dan jadi larva.
Meski dewasa hanya selama sehari, lalat capung memiliki tampilan yang eksotis, indah, dan lincah. Meski hidup hanya sehari, tapi tetap indah dan rapi. Bahkan beberapa kebudayaan menjadikan makhluk kecil ini lambang keindahan hidup, pengingat hidup yang singkat.
Memang hidup kita tidak sesingkat capung, tapi tetap singkat. Tidak selamanya kita tinggal di dunia ini. Yang lahir, hidup, itu pasti akan mati juga. Meski begitu kita kadang lupa, bahwa Vita est brevis. Hari ini kita diingatkan oleh lalat capung, meski hidup cuma sehari, tapi ia menggunakan masa hidupnya dengan baik. Lincah, indah, dan penuh warna.
Gunakan kehidupan dan kepercayaan Tuhan untuk meraih pengharapan hidup kekal. Berhentilah menyia-nyiakan hidup yang berharga ini. Gunakan hidup ini dengan sebaik-baiknya. Meski tantangan, cobaan, kesulitan, beban, dan penderitaan selalu ada; ingat “live one day at the time.” Tidak semua hari dalam hidup kita itu baik-baik saja, tapi selalu ada hal baik setiap harinya.
Deo gratias.
Rm RP Rio, Scj

