“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2 Tim 3: 16).
Setiap orang yang mengaku, bahwa ia adalah murid Kristus, mau tidak mau harus siap dengan adanya salib-salib kehidupan: masalah, penderitaan, dan bahkan mungkin penganiayaan, karena memang inilah konsekuensi kita sebagai orang-orang yang mengikuti Dia (bdk. ay. 12). Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memiliki dasar yang kokoh dalam menghadapinya, yaitu dengan mengingat dan berpegang pada ajaran Kitab Suci yang telah kita terima dan yakini (ay. 14-15). Membaca dan merenungkan Kitab Suci dapat diibaratkan seperti membaca SOP (Standar Operasional Prosedur) bagi seorang murid Kristus, karena Kitab Suci memberikan hikmat serta berbagai manfaat yang menuntun kita pada keselamatan (ay. 16).
Dalam sebuah sharing, seorang umat yang makin bertekun membaca Kitab Suci, setelah mengikuti retret awal menyampaikan, bahwa Kitab Suci jadi salah satu bacaan wajib yang membantunya mengatasi kelemahan pribadi, yaitu sifat mudah marah. Teks Kitab Suci jadi sumber kekuatan, penuntun, dan penghiburan yang memampukan dirinya menghadapi setiap tantangan dan permasalahan dengan rahmat iman, bukan lagi dengan emosi dan kemarahan.
Sudahkah kita membaca dan merenungkan Kitab Suci sebagai tuntunan hidup kita?
Sr. M. Aloysie, P. Karm
Jumat, 05 Juni 2026
2 Tim 3: 10-17 Mzm 119: 157.160-161.165-166.168; Mrk 12: 35-37
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

