Seorang pemuda menaksir seorang gadis yang dikenalnya beberapa bulan lalu. Gadis itu lebih muda sepuluh tahun darinya. Ia selalu menyempatkan diri untuk bertemu dengan gadis pilihannya. Suatu ketika ia menyatakan cintanya kepada gadis cantik itu.
“Saya jatuh cinta padamu. Apakah kamu dapat menerima saya, mengingat perbedaan usia kita 10 tahun. Saya khawatir, karena faktor perbedaan usia ini.”
“Tidak apa-apa. Saya terima kok. Yang penting harus terpenuhi satu syarat.”
“Apa itu…?”
“Syaratnya ialah, kamu menunggu sampai usia saya sama dengan usiamu.”
Kita sering salah paham. Cerita di atas adalah salah satu contohnya. Salah paham itu terjadi, karena di antaranya tidak ada satu pemahaman atau pemikiran yang sama. Jika kita tidak berusaha mengatasinya, hal ini berpotensi jadi konflik, pemicu perpecahan, dan hal itu hendaknya dihindari.
Kisah Tobit dalam Perjanjian Lama menggambarkan salah paham tentang penderitaan sebagai orang beriman. Penderitaan, karena Yesus jangan dianggap sebagai kutukan dan nasib yang memalukan. Justru penderitaan itu adalah kesempatan mendapatkan rahmat dan berkat Tuhan. Salah paham yang kedua ialah pandangan, bahwa kebaikan dan panggilan kekudusan itu didapatkan semata-semata, karena perbuatan manusia. Tuhan tidak berperan apa-apa. Seharusnya, hal ini adalah karena maksud dan kasih Tuhan Allah yang memilih serta memberikan kita martabat yang tinggi.
Orang-orang Saduki salah paham, bahwa nanti di dalam hidup abadi suami-istri biologis akan melanjutkan lagi perkawinan mereka di sana. Mereka berpikir, bahwa manusia hanya pindah alamat tempat tinggal, ketika nanti memasuki kehidupan di alam baka. Yesus menegaskan, bahwa mereka salah paham dan membuat arah hidup mereka jadi salah.
Jika terjadi salah paham, apa yang mesti kita lakukan? Hendaklah kita sadar, bahwa Tuhan adalah tempat mendapatkan terang, nasihat, dan jalan untuk berbalik ke paham yang benar. Kita juga hendaknya saling mengingatkan supaya salah paham itu tidak membesar dan jadi konflik. Tapi untuk diminimalisasi, diredam, dan ditiadakan agar tercipta damai.
“Ya, Tuhan Yesus Kristus, ajarkan dan kuatkanlah kami selalu untuk berada dalam jalan dan paham yang benar sesuai dengan kebijaksanaan-Mu. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

