Red-Joss.com | “Jangan pernah bertanya, ketika berbuat baik, kapan kita panen?”
Sesungguhnya, ketika bertanya hal itu adalah tidak pantas. Karena setiap orang akan memperoleh ganjarannya.
Bertanya itu pamrih. Tapi yang melakukan dengan ikhlas hati itu anugerah.
Berbuat baik itu ibarat menulis di bibir pantai, lalu tulisan itu tersapu gelombang pasang, dan hilang.
Berbuat baik itu juga tanpa sekat dan tanpa batas. Yang utama dan penting adalah sikap hati untuk memberi dengan tulus.
Berbuat baik itu tanpa alasan, tapi secara spontanitas karena timbul dari hati yang berempati dan peduli untuk berbela rasa dan berbagi. Lalu melupakannya.
Hal itu pula yang memotivasi saya untuk terus belajar berbagi pada sesama tanpa harus jadi kaya lebih dulu.
Saya dapat berbagi dengan senyuman, tatap mata yang ramah, berkata-kata penuh cinta, ringan tangan untuk menolong, atau mendoakan sesama dengan tulus hati.
Jadi, sekali lagi, jika saya ditanya kepastian hasil dari berbuat baik, saya tidak berhak untuk memberi kepastian dan menjawabnya. Berbuat baik itu muncul dari hati. Karena digerakkan oleh Yang Ilahi.
Anehnya, dan hal yang luar biasa saya rasakan adalah setiap kali saya berbagi pada orang yang miskin dan hina dengan semangat kasih, saya merasa bahagia. Saya melihat wajah yang sumringah, sorot mata yang ceria, dan senyum yang tulus.
Hal aneh yang lainnya adalah dada saya yang semula menyesak, lama kelamaan jadi lega dan nyaman. Langkah kaki saya juga merasa makin ringan seakan tiada beban. Hati juga jadi damai.
Dengan mengecilkan ego, saya jadi pribadi yang sabar, murah hati, dan mengasihi sesama.
Percaya diri dan selalu optimistis, saya menapaki masa depan dipenuhi harapan, iman, dan kasih.
Semangat mengasihi sesama yang membuat saya bahagia.
…
Mas Redjo

