Dalam Injil Markus, kita mendengar suatu perumpamaan tentang para pekerja (petani), yang menunjuk pada para Pimpinan agama di zaman Yesus. Maksudnya ialah untuk memperingatkan mereka, supaya menerima Yesus sebagai Putra Allah dan jangan menyandera Dia dengan aneka persepsi yang negatif.
Yesus mengalami langsung, mereka melawan cinta kasih yang diajarkan-Nya. Mereka memusuhi, menganiaya, bahkan membunuh semua utusan Allah, termasuk Yesus. Orang-orang itu merasa telah melakukan kebaikan dengan cara menegakkan hukum mereka, hukum Taurat.
“Apa yang terjadi sekarang ini?”
Kita tidak mempunyai sikap sama seperti para pekerja yang brutal terhadap Tuhan Yesus. Kita justru menerima dan mengakui Dia sebagai Tuhan yang baik. Kita tidak sampai hati mengkhianati-Nya. Jika hal itu terjadi berarti sia-sia, kita bertekun mendengar dan merenungkan firman-Nya.
Satu hal yang penting adalah, bahwa setelah kita dicurahi Roh Kudus pada hari Pentakosta, Yesus mengingatkan, di bawah bimbingan dan pengajaran Roh Kudus, kita mestinya menghasilkan buah yang baik, tidak sebaliknya yang buruk. Roh Kudus yang hidup bersama kita agar menghasilkan buah-buah yang baik dan berguna bagi diri sendiri maupun orang lain.
Tujuh karunia Roh Kudus itu yang jadi target buah-buah kita, yakni kebijaksanaan, pengertian, nasihat, kekuatan, pengetahuan, kesalehan, dan takut akan Allah. Jika salah satu atau dua karunia ini diabaikan, bisa saja kita jadi jahat seperti para pekerja kebun anggur itu.
Jika kita tidak mempunyai kebijaksanaan, pengertian dan pengetahuan yang baik, sangat mungkin Anda menggantikannya dengan kemarahan, menang sendiri dan bertindak membabi-buta kepada orang lain. Jika seseorang mungkin nampak saleh, tapi tak ada takut akan Allah, bisa saja ia akan jadi seorang pendendam yang berbahaya.
Jadi karunia Roh Kudus itu, paling kurang jadi salah satu indikasi, jika kita ingin berbuah baik, caranya ialah tunduk dan tekun dalam bimbingan Roh Kudus.
“Ya, Tuhan yang Maha Baik, terima kasih atas hari baru yang memberi kami kesempatan untuk menekuni hidup di dalam bimbingan Roh-Mu. Semoga pikiran dan hati kami selalu terbuka terhadap sapaan melalui firman yang disampaikan kepada kami. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

