Jadi Ibu adalah sebuah pengembaraan panjang tanpa peta. Sering kali jalan-jalannya terasa terjal menanjak, menguras daya, dan diselimuti kabut kekhawatiran tentang hari esok sang buah hati. Tapi di atas tanah Pertiwi ini, ada fondasi iman dan kemanusiaan yang menjaga langkah agar tidak goyah.
Dalam sunyi, ia ‘ngudoroso’; berbisik pada jiwanya sendiri, memeluk batin anak semata wayangnya:
“Setiap dekapan hangat dan untaian doa yang Ibu bisikkan di telingamu, Nak, adalah laku iman kita kepada Sang Pencipta. Doa-doa itu adalah anak tangga luhur yang sedang merajut masa depanmu, menumbuhkan jiwa yang adil dan beradab di dalam dirimu. Di ujung lelah yang kadang menyesakkan dada ini, ada bayang senyum bahagiamu yang selalu hadir sebagai pemersatu dan pemulih kekuatan jiwa Ibu.
Lelahmu sangat manusiawi, Nak. Tapi ketahuilah, setiap langkah kecil gotong royong kita hari ini sedang melukis takdir indah dan adil bagi kita berdua, juga bagi bangsa ini. Jangan pernah memadamkan api semangatmu. Mentari pagi yang hangat pasti setia menanti di ujung jalan. Ibu akan selalu bersamamu, menjagamu dalam tuntunan Gusti, hingga petualangan ini usai.”
Berkah Dalem.
Jlitheng

