Kita sering kali terjebak dalam pola pikir yang menolak perubahan. Tidak jarang kita enggan dan itu justru membatasi pertumbuhan iman kita.
Dalam Injil, para Imam kepala itu menantang Yesus dengan pertanyaan, “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan ini?” Sayangnya, pertanyaan itu tidak lahir dari hati yang tulus untuk mencari kebenaran, tapi dari hati yang tertutup oleh ketakutan. Mereka takut kehilangan posisi, kuasa, dan pengaruh, jika mengakui otoritas Yesus yang sejati.
Tanggapan Yesus adalah ajakan bagi kita untuk membuka hati dan membiarkan kuasa-Nya yang membebaskan dan menguatkan bekerja dalam hidup kita. Sebab iman itu bukan warisan pasif yang cukup diterima dan disimpan, melainkan anugerah yang harus dibangun, diuji, dan diperjuangkan setiap hari. Iman sejati tidak berhenti pada pengetahuan atau rutinitas rohani semata, tapi bertumbuh dalam kerendahan hati dan kesiapan untuk dipakai Tuhan, bahkan ketika itu berarti memikul salib dan menghadapi risiko.
Mari kita terus melangkah dalam iman yang hidup, iman yang berani membuka hati pada karya-Nya yang tidak terbatas.
“Ya, Tuhan, teguhkan iman kami untuk terus bertumbuh, berani melangkah ke luar dari zona nyaman, dan setia mengikuti-Mu meskipun harus menanggung salib. Amin.”
Ziarah Batin

