“Ketika dunia kita tampaknya hancur, jangan panik! Kasihilah. Percayalah. Berdoalah. Ampunilah. Layanilah. Bersukacitalah. Sebab Yesus tetaplah Tuhan atas badai.”
Allah yang Maha Rahim,
Firman-Mu terasa mengejutkan bagi kami. Yesus melihat pohon ara yang lebat daunnya, tapi tidak berbuah, lalu Dia mengutuknya. Kemudian Dia masuk ke Bait Allah dan membalikkan meja-meja, karena doa telah digantikan oleh kebisingan, bisnis, dan penampilan yang semu.
Pada awalnya, ini tampak keras. Tapi Yesus sedang menyatakan sesuatu yang lebih mendalam: Engkau tidak mencari daun-daun yang indah; Engkau mencari buah yang hidup. Daun bisa memukau orang dari kejauhan, tapi buah memberi makan bagi kehidupan.
Pohon ara itu tampak hidup, tapi tidak memberikan apa-apa. Bait Allah tampak kudus, tapi hati manusia telah menjauh dari-Mu. Secara lahiriah segalanya tampak baik-baik saja, tapi di dalamnya sesuatu yang penting itu hilang.
Bapa, betapa sering kami seperti itu. Kami bisa tampak damai, padahal menyimpan kepahitan. Kami bisa mendaraskan doa, padahal hati kami tetap cemas. Kami bisa terlihat setia di luar, padahal diam-diam hanya mengandalkan diri sendiri.
Engkau datang bukan untuk menghukum kami. Yesus datang bukan sekadar untuk menyingkapkan pohon-pohon yang mandul, melainkan Dia datang untuk menanam pohon yang baru: yaitu kayu salib. Melalui salib-Nya, ranting-ranting yang mati menerima kehidupan kembali. Melalui kerahiman-Nya, hati yang kering itu jadi berbuah.
Santo Petrus mengingatkan kami: “Kesudahan segala sesuatu sudah dekat.” Ketika dunia kecil kami terasa seperti sedang hancur, rencana-rencana gagal, hubungan jadi sulit, kekhawatiran meningkat, atau cobaan tampak membakar di sekeliling kami; jawaban-Mu bukanlah kepanikan. Sebaliknya, Engkau berbisik: Kasihilah senantiasa… Percayalah sepenuhnya… Berdoa dan tinggal tenang… Ampunilah dengan murah hati… Layanilah dengan sukacita…
Jangan terkejut oleh cobaan…
Tapi bersukacitalah, karena Kristus berjalan bersamamu untuk melalui semua itu.
Tuhan, ketika kami berdiri untuk berdoa, ajarlah kami juga untuk mengampuni. Angkatlah dari hati kami setiap dendam yang tersembunyi, kemarahan yang terpendam, dan setiap luka hati yang terus kami simpan. Jadikan doa-doa kami bukan hanya kata-kata di bibir kami, melainkan penyerahan diri dari hati kami.
Bapa, ajarlah kami untuk tidak sekadar ‘tampak’ hidup, melainkan ‘sungguh’ hidup di dalam-Mu. Semoga hidup kami menghasilkan buah yang tetap: kasih, sukacita, damai sejahtera, kemurahan, kesetiaan, dan harapan.
Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

