Banyak orang menegornya supaya ia diam. Tapi semakin keras ia berseru: “Anak Daud, kasihanilah aku!” (Mrk 10: 48).
Di pinggir jalan Yerikho, Bartimeus yang buta itu duduk sendirian. Orang-orang lewat, sibuk dengan urusannya masing-masing. Ketika ia mendengar kabar, bahwa Yesus lewat, ia mulai berteriak, “Yesus, kasihanilah aku!” Orang-orang menegurnya, tapi ia tidak peduli. Ia tahu hanya satu suara yang benar-benar penting: suara hatinya yang memanggil Tuhan. Teriakannya didengar, dan Yesus berhenti, memanggilnya secara pribadi.
Mungkin kita kadang takut untuk berseru kepada Tuhan. Kita malu, minder, atau merasa tidak layak. Tapi Bartimeus mengingatkan kita, bahwa iman yang berani berseru selalu didengar. Teriakan iman kita, sekecil atau sepahit apa pun itu tidak pernah sia-sia.
Marilah kita merenungkan sejenak: apakah kita berani berseru kepada Yesus tentang apa pun yang jadi beban hati kita? Jangan biarkan keramaian dunia itu menenggelamkan suara iman kita.
“Yesus, ajari aku untuk berani berseru kepada-Mu, dan yakin, bahwa Engkau selalu mendengar dan peduli. Amin.”
Sr. M. Odilia, P. Karm
Kamis, 28 Mei 2026
1 Ptr 2: 2-5.9-12 Mzm 100: 2-5; Mrk 10: 46-52
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

