1.
Menjelang peringatan lahirku
aku coba jeda rehatkan jiwa raga
agar bisa mendapat energi diri
menghitung jejak langkah pribadi
dalam mengisi deretan hari-hari
Ternyata tidak teringat semua kisah cerita
sejak nafas pertama hadir di dunia
hingga umur 60 menjelang senja
Mungkin hanya serpihan remah
dari kisah cerita suka duka
Yang bisa dijadikan mosaik makna dengan warna kreasi
Ada tanya yang terus mengusik
Sudah berapa langkah arti yang kupatrikan
dalam lintasan waktu umur nafasku
Sudah berapa jejak makna kulukis
dalam kanvas ruang usia hidupku?
2.
Ada jejak langkah menurut tempat
Dari kampung aku terlahir
tumbuh kembang masa bayi dan anak
hidup di keluarga dan sanak saudara
Lalu saat remaja melangkah ke kota
Mulai berkenalan dengan pendidik dan kawan baru
menjumpai banyak pihak di luar kampung asal
Bahkan bisa merantau ke pulau lain
demi belajar kerja dan mengejar cita
Pengalaman baru menganyam jiwa raga
berbeda dengan keluarga dan sanak saudara
Dunia membuka banyak informasi
Kehidupan menawarkan beragam pilihan
3.
Jejak langkah terpatri sesuai masa umur
Ada masa bayi dan anak-anak
belajar berdiri dan melangkah
asyik bermain dan mengenal lingkungan
Mulai sekolah masa anak-anak
hingga memasuki usia remaja
Perubahan jiwa raga penuh dinamika
dalam upaya mengenal pribadi
sambil belajar dari sesama saudara
Tinggalkan masa belajar di sekolah
saatnya mencari kerja agar mandiri
Berlanjut dengan berkeluarga
penuh warna sebagai suami dan Ayah
meramu suka duka agar bisa bermakna
Lalu umur menghantar memasuki masa tua dan senja
meski aneka tanya belum terjawab semua
Jejak langkah pribadi telah terpatri
4.
Dalam membaca nostalgia dan memori
Berbagai area jejak langkah aku telusuri
Duduk ngopi di tepi jalan
melihat beragam arah jalan yang pernah dilalui
bukan saja di kampung halaman
tetapi lintas kota, pulau dan benua
Pernah juga berkelana menyibak padang belantara dan hutan rimba
Naik turun bukit dan lembah serta mendaki gunung
agar temukan kecil pribadi di bentangan alam dan luasnya angkasa
Ketika harus terbang melintasi awan
ternyata ketakberdayaan diri semakin diproklamirkan
Aku tak berarti tanpa sesama dan alam ini
5.
Saat duduk di tepi tilam hendak berbaring
Angin sepoi dan sunyi berbisik
“Waktu terbanyak jejak umur dan langkah usiamu
terjadi di atas tilam tidurmu
Disaksikan tikar dan kasur
serta bantal dan selimutmu
termasuk nanti saat ragamu mati”
Aku terdiam dan baru menyadari
bahwa di atas tilam tempat tidurku
Aku putuskan mulai langkah mengembara
dan nanti kembali akhiri kelana setiap hari
Aku malu dan sadari bersalah
“Aku jarang berterima kasih
pada tilam tempat tidur dan bangunku
Sangat sedikit aku peduli pada tikar bantal kasur selimut
yang merekam semua memori
dan selalu memulihkan energi bagi jiwa raga pribadiku”

