Oleh: Fr. M. Christotorus, BHK
“Lucerna Ardens”
“Lampu yang Menyala”
“Kamu adalah terang dunia. Demikian hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di Surga”
(Matius 5: 14-16)
Filosofi ini mau mendeskripsikan hal ‘ketekunan iman dan kesetiaan hati’ dalam menjaga cahaya kebenaran, kasih, dan harapan di tengah dunia yang sering kali bertiup angin kencang (penuh godaan, kesulitan, dan keputusasaan) ini.
Menjaga Nyala agar tetap Hidup
Adalah Selma Lagerloeff dalam legendanya “The Flame” mengisahkan tentang seorang kesatria, yang setelah turut dalam Perang Salib di Tanah Suci bersumpah, dia akan membawa cahaya lilin dari nyala api suci di makam Kristus dan akan membawanya ke kota asalnya, Florence.
Tekad tulusnya ini ternyata mampu mengubah pribadinya dari seorang serdadu yang serba agresif jadi sesosok manusia berbudi baru yang berhati damai.
Dalam perjalanan pulang menuju kota Florence, dia dihadang para perampok, tapi dia tidak menggunakan mata pedangnya. Bahkan dia telah berjanji akan menyerahkan segalanya, asal lilinnya tidak terpadamkan. Mereka lalu merampas pakaian perang dan kudanya, serta pedang dan sejumlah uangnya. Tapi mereka meninggalkan seekor kuda tua untuknya.
Dia lalu menunggang kuda tua itu dan akhirnya tiba di kota asalnya, Florence, setelah mengalami berbagai bahaya. Dia bahkan sempat duduk di atas punggung kudanya dengan menghadap ke belakang, agar dia bisa melindungi nyala lilinnya. Sesampainya di Florence, dia membawa lilin itu ke sebuah Katedral dan menyalakan semua lilin di altar.
Ketika banyak orang heran dan bertanya-tanya, bagaimana caranya, sampai lilin itu akhirnya bisa tetap bernyala, dia menjawab, “Nyala lilin kecil ini menuntut perhatian penuh darimu; dan kamu harus fokus, serta bersedia untuk tidak merasa nyaman.”
(Willi Hoffsuemmer)
1500 Cerita Bermakna
Makna Filosofis dan Spiritual dari Metafora “Menjaga Lilin agar tetap Bernyala”
- 1. Lilin sebagai Simbol Iman dan Jiwa.
Lilin itu kecil, sederhana, rapuh, dan apinya mudah padam. Simbolisasi ini mewakili iman dan nurani kita manusia. Di sisi lain, lilin itu tidak bernyala hanya untuk dirinya sendiri, tapi demi menerangi kegelapan. - 2. Aneka Gangguan sebagai Realitas Hidup.
Angin yang berhembus kencang, hujan deras mengguyur, dan aneka guncangan adalah metafora dari: - Penderitaan dan kesedihan yang mampu memadamkan sukacita.
- Godaan dan dosa yang mampu mengalihkan fokus hidup kita dari Tuhan.
- Keraguan dan ketakutan yang dapat menggoyahkan iman kita.
- Keletihan duniawi berupa godaan untuk menyerah dan kalah.
- 3. Sebentuk Aksi demi Menjaga Cinta Aktif
Manusia perlu fokus dan setia demi menjaga keutuhan serta kemurnian iman menghadapi aneka gangguan hidup. Untuk itu, dibutuhkan cinta yang kreatif dan aktif. Ya, bukankah cinta sejati itu tidak bersifat menunggu, tapi justru ia aktif menjaga dan memeliharanya.
Andalah Kesatria itu…
Anda adalah kesatria itu, yang sanggup memelihara dan jadi iman dalam kehidupan ini.
Tanpa sikap setia, maka binasalah iman kita.
Bagaimana Anda dapat menyalakan jutaan lilin berkedip di gurun kehidupan ini, jika Anda sendiri ternyata tidak memiliki kesetiaan itu?
“Esto Fidelis Usque in Finem”
(Jadilah Setia hingga Akhir)
Kediri, 28 Mei 2026

