Kita sering mudah mengingat kegagalan, tapi lupa mensyukuri sejuta berkat. Salah satu berkat terbesar yang kita terima dari Tuhan adalah, bahwa kita ditebus, bukan dengan perak atau emas, melainkan dengan darah Kristus, Anak Domba yang tidak bercacat. Hidup kita begitu berharga sehingga Allah rela menebusnya dengan kasih yang tak ternilai. Maka, hidup ini bukan lagi milik kita sendiri, melainkan milik Allah. Ketika kita benar-benar menyadari betapa mahal harga penebusan itu, seluruh cara pandang kita terhadap hidup pun berubah.
Seperti Yakobus dan Yohanes, kita terkadang keliru memahami arti kemuliaan dalam mengikut Kristus. Mereka meminta duduk di sebelah kanan dan kiri Yesus dalam kemuliaan-Nya adalah cerminan kerinduan akan posisi dan pengakuan. Kita sering berharap, bahwa kesetiaan kepada Tuhan akan membawa kenyamanan, kehormatan, dan penghargaan. Kita ingin pelayanan dihargai, kerja keras diakui, dan pengorbanan dibalas. Tapi Yesus membalikkan semua itu. Ia berkata, “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani.” Ia tidak menolak kerinduan murid-murid-Nya, tapi mengarahkannya kepada makna sejati cawan penderitaan. Sebuah simbol kasih yang setia, pengorbanan tanpa pamrih, dan ketaatan di tengah jalan salib.
Mengikuti Yesus berarti memberi diri, tetap setia, meskipun tidak terlihat, dan mengasihi meskipun tak dibalas.
“Ya, Tuhan, jadikan setiap langkah kami sebagai ungkapan syukur, dan setiap tindakan kami cerminan kasih-Mu. Amin.”
Ziarah Batin

