Oleh: Peter Suriadi
Pada tahun 1891, Paus Leo XIII melihat dunia yang terkoyak oleh industrialisasi, dan ia menulis “Rerum Novarum,” sebuah ensiklik yang mengubah cara Gereja berinteraksi dengan masyarakat. Tanggal 15 Mei 2026, tepat 135 tahun kemudian, Paus Leo XIV menandatangani “Magnifica Humanitas.” Kesempatannya berbeda, tapi kemendesakannya sama.
Magnifica Humanitas, ensklik yang panjang ini, kaya secara teologis, dan pada beberapa bagian sangat berani. Berikut saya rangkumkan isi, termasuk satu unsur yang mungkin mengejutkan Anda, dari masing-masing bab.
Pendahuluan: Dua Kota, Satu Pilihan
Paus Leo XIV membuka ensiklik ini dengan dua gambaran biblis: Menara Babel dan pembangunan kembali Yerusalem di bawah Nehemia. Menara Babel adalah projek kesombongan dan keseragaman; pembangunan kembali Yerusalem lambat, komunal, dan berakar pada Allah. Seluruh ensiklik mengalir dari pilihan ini. “Apakah kita membangun Menara Babel yang efisien, kokoh, dan tidak manusiawi atau membangun Yerusalem, bata demi bata dengan sabar?”
Bab 1: Tradisi yang Hidup
Dengan menelusuri ajaran sosial Gereja dari Paus Leo XIII hingga Paus Fransiskus, Paus Leo XIV hendak menunjukkan, bagaimana setiap Paus menanggapi krisis pada zamannya. Garis itu membentang dari hak-hak pekerja hingga perang nuklir, keruntuhan lingkungan, dan kesenjangan global.
Secara mengejutkan Paus Leo XIV tidak hanya menerapkan ajaran sosial Gereja berkenaan dengan kecerdasan buatan. Ia mengatakan secara aktif kecerdasan buatan menantang kategorinya dari dalam, dan menuntut agar tradisi tersebut berkembang lebih jauh.
Magnifica Humanitas Nomor 17 mengatakan, “Kecerdasan buatan […] tidak boleh dianggap hanya sebagai tema lain yang perlu dipelajari atau krisis yang perlu dikelola, melainkan sebagai perkembangan yang menantang kategori ajaran sosial Gereja dari dalam, menyerukan pengembangan lebih lanjutnya dalam kesetiaan kepada Injil.”
Bab 2: Prinsip yang Tidak Berubah
Di ensiklik ini menegaskan kembali pilar-pilar fundamental: martabat manusia, kebaikan bersama, subsidiaritas, solidaritas, keadilan sosial, dan pembangunan manusia secara menyeluruh. Landasan yang kokoh dan familiar — sampai tidak lagi.
Secara mengejutkan dan tersurat Paus Leo XIV memasukkan algoritma, data, platform digital, dan paten di bawah prinsip tujuan universal benda-benda. Data itu bukanlah milik perusahaan teknologi. Dalam arti sebenarnya, data itu adalah milik semua orang. Magnifica Humanitas Nomor 67 mengatakan, “Saat ini, di antara benda-benda yang ditujukan secara universal untuk semua orang, kita juga harus memasukkan bentuk-bentuk kepemilikan baru, seperti paten, algoritma, platform digital, infrastruktur teknologi, dan data. Dalam konteks di mana kekayaan bangsa semakin bergantung pada pengetahuan dan teknologi, ketika benda-benda ini tetap terkonsentrasi di tangan segelintir orang, tanpa bentuk berbagi dan akses yang memadai, terciptalah kesenjangan baru yang bertentangan dengan tujuan universal benda-benda.”
Bab 3: Apa itu Kecerdasan Buatan dan Apa yang Bukan Kecerdasan Buatan
Inilah inti ajaran dari ensiklik tersebut. Kecerdasan buatan, tulis Paus Leo XIV dengan lugas, bukanlah kecerdasan manusia. Ia memproses data. Ia tidak dapat merasakan, menderita, mencintai, atau memikul tanggung jawab moral. Ia dapat mensimulasikan empati tanpa memahaminya. Hal itu sangat penting ketika kita menyerahkan kekuasaan atas kehidupan manusia kepadanya.
Secara mengejutkan Paus XIV menyerukan agar kecerdasan buatan ‘dilucuti’ — dibebaskan dari nalar persaingan geopolitik dan komersial, serta nalar kendali monopoli, dan dikembalikan ke pluralitas budaya manusia.
Magnifica Humanitas Nomor 110 mengatakan, “Akhirnya, saya ingin menggunakan ungkapan ‘melucuti’, yang sangat dekat di hati saya. Melucuti kecerdasan buatan berarti membebaskannya dari mentalitas persaingan ‘bersenjata’, yang saat ini tidak hanya terbatas pada konteks militer, tapi juga merupakan fenomena ekonomi dan kognitif. Hal ini melibatkan perlombaan untuk algoritma yang semakin kuat dan kumpulan data yang lebih besar, didorong oleh keinginan untuk mengamankan dominasi geopolitik atau komersial. Melucuti berarti mendiskreditkan asumsi, bahwa kekuatan teknis secara otomatis memberikan hak untuk memerintah. Melucuti itu bukan berarti menolak teknologi, melainkan mencegah mendominasi umat manusia. Ini berarti membebaskan teknologi dari kendali monopoli dan membukanya untuk diskusi dan debat, sehingga menjadikannya ramah manusia dan mengembalikannya ke pluralitas budaya dan cara hidup manusia. Tugas kita saat ini bukan hanya etis atau teknis. Tugas kita bersifat ekologis dalam arti yang terdalam, karena menyangkut dimensi baru dari rumah kita bersama. Kecerdasan buatan itu sudah jadi lingkungan tempat kita berada, dan kekuatan yang harus dihadapi. Alasan hanya mengaturnya saja tidak cukup; ia harus dilucuti, ramah, dan mudah diakses.”
Bab 4: Kebenaran, Pekerjaan, dan Kebebasan
Bab 4 ini paling luas cakupannya. Membahas disinformasi dan demokrasi, transformasi pekerjaan oleh otomatisasi, kerapuhan keluarga di bawah tekanan ekonomi, bahaya kecanduan digital, dan eksploitasi pekerja yang tersembunyi di dalam rantai pasokan kecerdasan buatan.
Dalam bagian tentang perbudakan modern dan ekonomi digital, secara mengejutkan dan resmi Paus Leo XIV meminta maaf— atas nama Gereja — atas keterlibatan historisnya dalam melembagakan perbudakan. Sebuah momen kerendahan hati kelembagaan yang luar biasa di dalam sebuah dokumen tentang masa depan. Magnifica Humanitas nomor 176 mengatakan, “Memang benar, bahwa peristiwa masa lalu itu tidak dapat dinilai secara anakronistik, seolah-olah kriteria moral yang telah matang dari waktu ke waktu selalu tersedia. Tapi kita tidak dapat menyangkal atau mengurangi keterlambatan yang dialami, baik masyarakat maupun Gereja dalam mengecam momok perbudakan. Pada zaman kuno dan ‘Abad Pertengahan’, banyak individu dan bahkan lembaga gerejawi memiliki budak. Bahkan pada periode modern awal, Takhta Apostolik Roma, menanggapi permintaan dari para penguasa, beberapa kali turun tangan untuk mengatur dan melegitimasi bentuk-bentuk penindasan; dan dalam kasus-kasus tertentu, perbudakan terhadap ‘orang kafir’. Baru pada abad kesembilan belas kecaman formal, absolut, dan universal terhadap perbudakan itu diartikulasikan dengan jelas, terutama pada masa Paus Leo XIII.”
Bab 5: Peradaban Kasih
Bab terakhir membahas perang. Secara gamblang: pengeluaran militer meningkat, batasan etika terkikis, dan kecerdasan buatan membuat keputusan mematikan lebih cepat dan lebih impersonal daripada sebelumnya.
Secara mengejutkan Paus Leo XIV menyatakan dengan jelas bahwa teori perang tradisional yang adil kini sudah usang. Di dunia senjata otonom dan perang hibrida, kerangka kerja lama tidak dapat dipertahankan. Diplomasi, dialog, dan multilateralisme adalah satu-satunya jalan selanjutnya yang masuk akal. Magnifica Humanitas nomor 192 mengatakan, “Dewasa ini, lebih dari sebelumnya, tanpa mengurangi hak untuk membela diri dalam arti yang paling ketat, penting untuk menegaskan kembali bahwa teori ‘perang yang adil’, yang terlalu sering digunakan untuk membenarkan segala jenis perang, kini sudah usang. Umat manusia memiliki sarana yang jauh lebih efektif dan mampu untuk meningkatkan kehidupan manusia dan menyelesaikan konflik, seperti dialog, diplomasi, dan pengampunan. Penggunaan kekerasan, paksaan, dan senjata mencerminkan kemiskinan relasional yang selalu memiliki konsekuensi buruk bagi penduduk sipil.
Penutup: Pelajaran Nehemia
Ensiklik ditutup dengan program praktis: tetap setia pada kebenaran, berinvestasi dalam pendidikan, membina hubungan yang nyata, mencintai keadilan dan perdamaian. Gambaran yang diberikan adalah Nehemia, dengan lengan baju tergulung, membangun kembali tembok demi tembok. Itulah, menurut Paus Leo XIV, gambaran jadi seorang Katolik di era kecerdasan buatan.
Tautan untuk membaca dokumen lengkapnya : https://www.vatican.va/content/leo-xiv/en/encyclicals/documents/20260515-magnifica-humanitas.html
Bapak Peter Suriadi

