Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Crux est Aurem Potential ad Caelum”
“Salib adalah sebuah Titian Emas Menuju Surga”
(Adagium Latin)
Sebuah penderitaan dapat melahirkan sebuah kemenangan, jika dapat diproses secara baik dan benar.
Memotong Salib
Ada sekelompok orang saleh berziarah dengan sambil memikul salib. Ternyata medan perjalanan yang ditempuh itu sangat berat. Sehingga terdengarlah keluhan, gerutuan, dan rintihan.
Mereka sadar, bahwa salib yang dipikulnya itu ternyata sangat berat dan terlalu panjang. Sehingga mereka pun memotong salib-salib itu jadi lebih pendek.
Selang beberapa hari lagi, mereka akan memasuki tanah terjanji yang penuh sukacita dan kegembiraan. Tapi masih ada satu buah rintangan yang paling besar, karena di sana terbentang sebuah jurang yang sangat dalam. Bagaimana cara agar mereka bisa menyeberang?
Akhirnya disepakati, bahwa setiap salib mereka akan disambungkan sebagai jembatan. Ukuran salib mereka pas untuk menjembatani jurang terjal itu.
Akhirnya, mereka dapat menyeberangi dengan selamat setelah salib mereka dipotong.
(Friedrich Dietz)
1500 Kisan Bermakna
Transformasi Penderitaan Menjadi Sebuah Jembatan Kasih
Lewat alegori bermakna ini terdapat sejumlah makna:
- 1. Transformasi Beban yang Menjadi Berkat
Mula-mula semua salib hidup kita akan dipandang sebagai sebuah ‘beban berat.’ Ia akan sangat menguras energi pribadi yang menyakitkan hidup. “Mengapa justru saya harus memikul beban ini?” Inilah sebuah rintihan yang tidak jarang kita dengar.
Padahal di balik itu justru terdapat sebuah makna penting. Bahwa ‘sebuah penderitaan itu tidaklah sia-sia.’ Apa yang dianggap sebagai kutukan, jika diserahkan kepada Tuhan dan sesama, justru dapat jadi sebuah berkat keselamatan.
Refleksi:
Bahwa luka-luka hidup kita dapat disembuhkan oleh Kristus.
- 2. Solidaritas dan Komunitas (Kita tak dapat melewati jurang seorang diri).
Jika hanya ada sebuah salib, maka jurang itu tak akan terjembatani. Sehingga mereka menyambungkan salib-salib mereka.
Makna: sebuah keselamatan dan penyelesaian masalah hidup jurang terjadi secara individualistik. Maka, kita butuhkan sesama. Hal ini mau menggambarkan Tubuh Kristus, ‘penderitaan satu anggota tubuh, dapat dirasakan oleh semua.’
Refleksi:
Semoga kita tidak mau menunjukkan kelemahan. Kelemahan itu adalah ‘ujung salib’ yang dibutuhkan oleh orang lain.
- 3. Jurang menganga itu adalah Tempat Pertemuan dengan Sesama Manusia
Jurang itu menyimbolkan krisis, bahaya, kematian, kegagalan, dan dosa. Bahwa egoisme dapat runtuh di tepi jurang menganga.
Makna: sebuah krisis sering kali memaksa kita untuk ke luar dari diri kita sendiri.
- 4. Salib bukan lagi Hukuman, tapi sebuah Anugerah Tersembunyi. Sebelum jurang, salib adalah simbol penderitasn pasif, tapi setelah jadi jembatan, salib adalah simbol aksi aktif.
Makna: Tuhan tidak menghilangkan sakit kita, tapi Ia memberi makna baru pada salib.
- 5. Pengorbanan Diri untuk Orang lain.
Agar dapat membangun jembatan, orang harus meletakkan salibnya, bahkan rela menginjaknya: di balik itu terdapat sikap kerendahan hati.
Makna: bahwa kita semua dipanggil untuk jadi kerangka kokoh dari sebuah jembatan bagi orang lain.
Konklusi
- Hanya lewat sikap rela memotong salib hidup kita sendiri demi menyelaraskan dengan salib sesama, baru kita dapat membentuk sebuah titian emas untuk menuju sebuah negeri terjanji.
- “Egoisme benar-benar menghancurkan komunikasi, baik dengan Tuhan maupun dengan sesama manusia”
(Hubert Van Zeller)
Kediri, 26 Mei 2026

