Segetir apa pun hidup yang dijalani, sepahit apa pun pengalaman yang telah dijalani, dan sesakit apa pun luka yang ditorekan pada hati, tapi semuanya itu terasa sirna sejenak, bahkan selamanya, jika ada tangan halus yang membelai, mengusap, dan ada pangkuan lembut tempat kita merebahkan kepala. Itulah tangan dan pangkuan Mama.
Yesus sangat tahu, bahwa jadi pengikut-Nya itu tidak mudah. Banyak cercaan dan cemoohan yang memekakan telinga, hujatan dan ancaman yang menakutkan rasa, dan nyawa ini jadi taruhannya, maka dari tiang gantungan Ia berseru kepada Yohanes, murid kesayangan-Nya, yang mewakili kita semua; “Inilah ibumu!” (Yoh. 19: 27).
Karena itu:
- 1) Jangan takut mencintai Maria, karena sesungguhnya menerima dan menghormatinya adalah perintah Yesus;
- 2) Jadikanlah Bunda Maria sebagai model dan teladan dalam mengimani Yesus;
- 3) Dalam kesulitan dan derita apa pun, berlarilah kepada Bundamu, Maria, karena ia akan memeluk dan menggendongmu agar hatimu jadi tenang.
Maria adalah Bunda Gereja. Dialah Bunda kita semua pengikut Yesus, Putranya.
Monsignor Inno Ngutra, Pr

