Ada sepasang suami istri yang sudah berusia di atas 60 tahun. Anak-anak dan cucunya tinggal di rumahnya masing-masing. Sang istri menderita katarak pada kedua matanya yang mengakibatkan ia tidak bisa melihat sama sekali. Suami itu yang harus mendampingi dan menolongnya setiap saat. Anak-anak dan cucunya sering bergantian melayaninya pula.
Wanita itu dapat mengenal dengan baik dan menyebut nama orang yang sedang berada di dekat dan melayaninya dengan merasakan bau yang berbeda-beda dari setiap orang. Karena suaminya memberi bau yang berbeda pada anak, menantu, dan cucu. Meski yang melayaninya tidak mengeluarkan suara, tapi ia dapat memastikan orang itu dengan mengenal bau yang ke luar dari tubuh orang itu. Ia berkata, bahwa kemampuannya ini bukan karena ia hebat, melainkan suatu pembiasaan yang dijalani sejak kedua matanya buta.
Hubungan kita dengan Roh Kudus adalah seperti yang terjadi dengan Ibu yang buta itu. Kita tidak bisa dan tidak melihat wujud konkret Roh Kudus. Jika dahulu Gereja Perdana di Yerusalem, jemaat menyaksikan dengan mata sendiri Yesus yang bangkit berdiri di tengah-tengah mereka, berbicara, mengutus, dan menghembusi Roh-Nya kepada mereka. Keadaan kita jauh berbeda. Kita hanya dapat mengetahui Roh Kudus dengan merasakan kehadirannya, yaitu bau-Nya yang sangat indah dan menarik kita semua kepada-Nya.
Roh Kudus adalah bau cinta kasih Allah. Ia memberikan hembusan cinta kasih Tuhan ke dalam diri ini, sehingga kita mendapatkan semangat baru dan kemampuan untuk berbicara yang dimengerti oleh banyak orang lain, terutama dalam saat-saat kesulitan serta krisis hidup. Kita dipenuhi dengan semangat cinta, sehingga semua orang mendapatkan keharuman yang menyukakan hati.
Di dalam dunia ini bercampur bau cinta atau benci, rajin atau malas, berani atau takut yang berbeda dari satu orang ke orang yang lain. Tapi nafas cinta kasih Allah hanya satu, yang dihembuskan Roh Kudus, supaya mempersatukan dan menjiwai semua. Hembusan kebencian manusia diatasi oleh cinta kasih Allah; Hembusan kemalasan dan hilangnya semangat manusia, diatasi oleh hembusan kasih Ilahi yang mencurahkan semangat baru; dan seterusnya. Jadi hembusan sang Ilahi adalah Roh Kudus yang berhembus untuk menyebarkan cinta kasih Allah dan kehidupan baru kepada kita semua.
“Ya, Allah yang Maha Baik, kami bersyukur atas hari Minggu Pentekosta ini yang membuka kesadaran dan batin kami akan kehadiran-Mu tanpa henti melalui Roh Kudus-Mu. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

