1.
Tiang Sasi ini dari kayu hutan tanah Papua ini
Ritual adat budaya ini kami terima sebagai warisan adat budaya leluhur
Kami tidak meminta terlahir di tanah ini
Kalian orangtua leluhur pun sama
tidak meminta menjadi pewaris suku di tanah ini
Maka …
ketika suara kami tak mampu bergema mengetuk kesadaran sesama
Ketika kekuatan tangan kami tak bisa melawan mesin dan alat berat
Ketika tanah dirampas dan hutan digundulkan
Ketika kami lara derita dan mati
merana di tempat tumpah darah ini
Kami pancang Tiang Sasi dengan ritual adat
untuk menggugat para moyang leluhur
demi nasib hidup kami yang galau
Kami menuntut jawaban kalian para pendahulu
mengapa begini nasib kami anak cucu?
2.
Kayu Salib Merah kami tegakkan
berdampingan dengan Tiang Sasi adat budaya
Sebagai ungkapan iman yang tersisa
Sebagai remah harkat dan puing doa
karena tak bisa berharap keadilan pada manusia
Apalagi kepada pejabat korup dan pengusaha rakus
Dengan kekuasaan politik, uang dan senjata
datang menindas harkat martabat kami
datang merampok tanah warisan leluhur dan kekayaan sumber daya alam kami
Semoga Yesus Kristus Sang Pemilik salib
masih mendengar dan menjawab doa kami
masih membela dan menjadi Juru Selamat kami
Inilah salib letih lesu dan beban kami
Apakah pasti mendapat pembebasan dan kelegaan
Apakah segera indah dan tiba waktu pertolonganMU?
3.
Dengan tiang-tiang sasi adat
Kami titip suara hak-hak asasi diri
Kami pancangkan tanda kehadiran suku bangsa kami
Kami nyatakan diri sebagai manusia dan warga negara
Kami proklamasi kan harkat martabat sebagai anak cucu pewaris tanah dan adat budaya suku
Kami tegaskan pengalaman lara derita duka yang menimpa jiwa raga
Dan…
dalam galau merana kami bertanya
Dimanakah kekuatan sakralmu para leluhur suku
Kapankah datang pertolongan Ibu Bumi dan Bapa Angkasa
Apakah kami terlahir untuk sengsara, merana dan mati di tanah ini
oleh kerakusan kekuasaan, bisnis dan senjata penjajah?
4.
Pada Salib Merah yang berdiri
kami gantungkan jiwa raga tak berdaya
karena tidak ada ibu dan sanak saudara yang membela nasib kami
Pada kayu palang yang diambil dari tanah ini
kami warnai dengan merah darah lara derita
Yang galau karena tak mampu melawan
Yang tertindas tak berdaya untuk menghadapi kekuatan raksasa
Yang kebingungan entah kemana berharap
Yang pedih perih memikirkan nasib anak cucu generasi
Dan…
kami tagih janjiMu Yesus Kristue
“Aku tetap menyertai kamu sampai akhir zaman
Datanglah padaKu kalian semua yang letih berbeban berat
Aku pasti memberikan kelegaan padamu”
Kami mohon…
“Datanglah Tuhan, datanglah segera”

