Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” (Yoh 21: 15a).
Dalam Injil, kita merenungkan perjumpaan Yesus dengan Petrus setelah kebangkitan-Nya. Tiga kali Yesus bertanya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?”
Pertanyaan itu bukan tanpa makna. Tiga kali pula Petrus pernah menyangkal Yesus. Tapi melalui pertanyaan yang sama, Petrus tidak dihakimi, melainkan dipulihkan. Ia diberi kesempatan untuk menyatakan kembali kasihnya dan meneguhkan komitmennya kepada Tuhan.
Yesus tidak terpaku pada kegagalan masa lalu Petrus. Ia melihat hati yang mau bertobat dan kerinduan untuk berubah. Dari pengalaman itulah Petrus bangkit dan berani melangkah dalam panggilan barunya.
Demikian pula dalam hidup kita. Kesibukan dan berbagai tanggung jawab itu kerap membuat relasi kita dengan Tuhan merenggang. Tapi di tengah semua itu, Yesus tetap bertanya, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Pertanyaan ini mengajak kita untuk berhenti sejenak dan memeriksa hati.
Tuhan tidak menuntut kesempurnaan, melainkan kasih yang tulus. Ketika kita berani menjawab dengan jujur dan kembali kepada-Nya, di situlah pemulihan dimulai. Dari kasih itu pula kita memperoleh kekuatan untuk bangkit dan berjalan kembali bersama-Nya.
Sr. M. Kathleen, P. Karm
Jumat, 22 Mei 2026
Kis 25: 13-21 Mzm 103: 1-2.11-12.19-20; Yoh 21: 15-19
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

