Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Orang lain mungkin ragu akan perkataan Anda, tapi mereka selalu percaya pada hasil pekejaan Anda. Jadi, berikanlah apa yang patut mereka percayai.”
(John C. Maxwell)
“Saya hanya percaya kepada perkataan yang diucapkan oleh Tuhan. Lewat surat-surat-Nya, Ia telah berbicara, bahkan mengajar dan bendidik, membimbing dan menuntun langkah hidup kita di bumi ini. Tapi surat-surat dari manusia, siapa pun dia, apa pun bentuk dan isinya, maaf, saya pun selalu meragukannya.
Surat Panjang dari Allah
Biarawan Santo Antonius telah hidup menyendiri di padang gurun Mesir sejak dari abad ketiga. Namun sesungguhnya, ia tidak pernah benar-benar telah melepaskan diri dari komunikasi intens dengan sesamanya.
Hal ini terbukti dari betapa intensitas komunikasinya lewat ‘surat-menyurat’ dengan pihak-pihak luar.
Bahkan Raja Konstantinus giat berkomunikasi lewat surat menyurati. Isi surat mereka umumnya, memohon nasihat dan bimbingan kepadanya. Bahkan para pertapa lainnya menulis surat meminta doa kepadanya.
Di suatu hari, seorang muridnya menyatakan kekagumannya, karena menurutnya, baik bahkan Raja dan Kaisar tidak segan menyuratinya. Orang kudus itu menjawab, “Janganlah engkau terlalu mengagumi isi surat-surat mereka, entah siapa pun. Karena yang mereka tuliskan itu sesungguhnya tidak ada yang istimewa. Bahkan yang dituliskan oleh orang-orang kenamaan lainnya itu tidak layak untuk disebutkan.”
Ia berkata, “Bertolak dari sebuah fakta, saya tahu, bahwa sesungguhnya hanya ada satu surat yang benar-benar patut untuk dibaca, dibaca lagi, dan direnungkan.”
Mendengar tuturannya itu, maka murid itu bertanya, “Surat apa dan dari manakah sampai seistimewa itu?”
Pertapa itu spontan menjawab, “Surat yang saya maksudkan ialah surat yang telah ditulis oleh Allah kepada kita, itulah Kitab Suci.”
(Bert Balling)
1500 Cerita Bermakna
Surat-Surat Palsu yang telah Bertebaran
“Dunia kita ini, kini sudah sangat sulit untuk masih bisa dipercayai lagi.” Demikian isi keluhan masyarakat, karena realitas yang sungguh menyakitkan hati itu.
Isi surat apa yang kini masih dapat Anda percayai? Surat-surat pernyataan berupa suatu perjajian: nikah, warisan, pinjaman, piutang, perceraian, dan surat gadaian pun masih dapat Anda percayai?
Dari manakah datangnya surat-surat berisi kepalsuan dan berkamuflase itu? Ya, bukankah surat-surat itu datang dan mengalir dari dalam dasar sanubari serta hati nurani manusia?
Sejatinya kesaksian hidup yang ditawarkan oleh pertapa itu, sangat perlu dicermati dan diwaspadai, agar Anda tidak jadi korban atas kepalsuan hidup ini.
Kita Suci, ya, benar itulah isi surat cinta dari Tuhan untuk Anda dan dunia. Sebuah surat yang bersifat dan berisi suatu kebenaran kekal. Isinya itu mengadung suatu kebenaran dari kekal hingga ke kekal.
Mari membaca dan merenungkan isinya. Niscaya ia akan membimbing dan menuntun langkah hidup Anda.
Refleksi
- Lewat tulisan refleksi ini, sepantasnya kita disadarkan untuk boleh turut mengoreksi diri, bahwa jangan-jangan, saya sebagai salah seorang dari penyumbang mala petaka itu?
- Sungguh benar, bahwa kebenaran sejati hanya ada pada Allah.
- “Errare humanum est” “Kelemahan adalah sifat bawaan manusia.”
Kediri, 19 Mei 2026

