Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Gitu Aja kok Repot!”
(Gus Dur)
Fenomena “Ketuaan Biologis ataukah karena Rendahnya Moralitas Manusia?”
Sudah cukup sering kita mendengar ocehan, “Ah, dunia ini memang sudah menua, maka segala sesuatu yang kini terjadi justru mau menunjukkan, bahwa sungguh benar, bahwa dunia ini sudah tua.”
Dari sikon yang kian gonjang-ganjing, apakah hal ini mau memperlihatkan, bahwa kondisi morat-marit ini sebagai dampak dari kepikunan para pengelola: bangsa, partai politik, agama, dan perusahaan? Tapi, hai, tunggu dulu!
Ternyata yang dikatakan sebagai ‘tua dan pikun’ itu bukanlah soal usia planet bumi. Melainkan deskripsi ‘rendahnya sikap kemanusiaan dan moralitas manusia’ seperti: ketidakjujuran, kebohongan, manipulatif, dan korupsi dari para pengelolanya.
Simpel dan Jujurnya Office Boy
Sebuah perusahaan sabun mandi mengadakan rapat penting, karena banyak komplain dari konsumen yang mendapati ‘kotak sabun yang tidak ada isinya alias kosong.’
Masalah yang dihadapi perusahaan ini, karena kondisi mesin produksi yang memang sudah tua. Untuk itu, Pemimpin perusahaan mengundang para Direktur, Manager, Supervisor, hingga staf untuk bersama mencari solusi.
Setelah Pemimpin perusahan membeberkan, bahwa faktor mesin produksi yang tua itu sebagai aspek penyebab. Seorang Supervisor berkata, “Solusi yang paling aman adalah membeli mesin baru dari Jerman, harganya Rp 10 miliar!”
Melihat harga setinggi itu, seorang Manager berkata, “Usul saya, kita membeli mesin model terbaru dari Jepang, harganya murah, hanya Rp 1 miliar!”
Lalu seorang Direktur menimpali, “Bagaimana kalau kita membeli mesin paling canggih dari China, yang harganya hanya Rp 100 juta?” Tampak Pemimpin perusahaan itu lebih condong untuk membeli mesin dari negeri tirai bambu, China.
Sebelum keputusan rapat itu disimpulkan, seorang Office Boy memberanikan diri untuk berbicara, “Jika berkenan, saya mengusulkan untuk membeli mesin baru dengan harga yang sangat murah, Rp 250.000!” Maka, serentak suasana rapat pun geger, mereka bahkan menertawakan usulan itu sebagai sebuah guyonan murahan.
Sahut Pemimpin perusahaan, “Jika kamu memang serius, saya segera memberikan uang Rp 250.000 kepadamu!”
Office Boy itu pergi mencari mesin yang dimaksudkannya. Dua jam kemudian, ia membawa alat itu dan memperagakan sistem pengoperasiannya. Ternyata alangkah simpel dan praktisnya cara penggunaannya. Dengan menggunakan mesin baru ini, ternyata tidak lagi terjadi kendala seperti sebelumnya.
Para peserta rapat terheran-heran dan bahkan merasa malu, karena dikalahkan oleh seorang Office Boy. Lalu sambil menoleh ke arah para peserta rapat ia berkata, “Gitu aja kok rapot!”
(Inspirasi tanpa Menggurui)
Guru Terbaik dalam Kehidupan
“Ide terhebat sedunia… Bukan siapakah yang terhebat sedunia. Jika tidak ditindaklanjuti itu tak akan berarti apa-apa. Barang siapa menginginkan segelas susu, hendaknya jangan hanya duduk di onggokan rumput di tengah padang menunggu seekor sapi perah menghampirinya.”
(Curtis Grant)
Siapa pun dapat jadi seorang ‘guru yang terbaik,’ alias pemberi ‘suri teladan’ di dalam kehidupan, jika ia mampu bertindak transparan, tulus, jujur, simpel, dan tanpa ada tujuan terselubung di balik tindakannya.
Adapun hambatan yang sering kali terjadi dalam ruang lingkup kehidupan kita, justru bertolak dari sikap: tidak tulus dan jujur, ada udang di balik batu, lain di bibir lain pula di hati, dan manipulasi. Nah, inilah racun-racun kehidupan yang tidak saja mengganggu, tapi malah mematikan spirit api perjuangan bersama.
Dari Lompatan Fantastis dan Dramatis ke Lompatan Kejujuran serta Realistis
Dari angka 10 miliar, ke 1 miliar, lalu ke 100 juta, hingga akhirnya bertengger ke hanya 250.000 saja adalah bentuk-bentuk ‘lompatan antara lain: lompatan harga, gengsi, kesadaran, kejujuran, kepolosan, dan ketulusan sejati.
Refleksi
- Bukankah dinamika kehidupan ini, justru jadi kian rumit dan kusut masai, karena sikap hati manusia yang tidak jujur serta serba manipulasi?
- Mengapa justru betapa sulitnya manusia untuk dapat bersikap simpel, tulus, dan tanpa kamuflase? Ada apa dan mengapa di balik sikap batin manusia, karena selalu saja terjadi benturan antar sesamanya?
- “Salah satu rahasia sukses adalah jadilah solusi dan bukan problem.”
(Shiv Khera)
Kediri, 15 Mei 2026

