Tepat pukul 7 pagi Pastor Paroki sudah bersiap di Sakristi untuk berarak menuju Altar dan Misa dapat segera dimulai. Pemimpin koor dan anggotanya merasa gelisah, karena umat yang hadir baru seperempat kapasitas Gereja. Mereka meminta Pastor supaya sebaiknya menunggu umat lain datang baru dapat dimulai Misa. Tapi Pastor itu menjawab: “Misa tidak bergantung pada jumlah yang hadir di dalam Gereja.”
Sikap Pastor Paroki ini merupakan refleksi atas kenyataan di dalam pertumbuhan iman dan Gereja, bahwa kita tidak hanya mengejar jumlah. Tapi juga kualitas. Dalam konteks penyebaran Injil yang dilakukan Paulus dan rekan-rekannya di Aeropagus, Athena, banyak sekali yang menolak semua ajaran Paulus tentang Yesus Kristus, dan hanya satu dua orang yang percaya. Jumlah ini sangat sedikit, jika dibandingkan dengan sejumlah daerah lain yang telah mereka kunjungi.
Jika yang dikejar itu terutama jumlah atau sebanyak mungkin pengikut baru, hasil ini pasti sangat mengecewakan. Tapi Paulus dan rombongannya tahu, bahwa ini adalah pekerjaan milik Tuhan. Di dalam Tuhan tidak ada rivalitas atau perhitungan untung rugi jumlah dan kualitas. Bagi Tuhan, pokoknya ada orang yang percaya, mengikuti Dia dan menghidupi imannya itu dengan berkualitas. Jumlah yang ada sekarang ini merupakan realisasi pilihan Yesus atas kita dari dunia ini. Kualitas hidup kita sangat bergantung pada kemampuan kita hidup dalam terang dan bimbingan Roh Kudus. Bersama Roh Kudus, kita memiliki tempat di dalam Yesus Kristus.
Dua kecenderungan manusia untuk mengejar jumlah dan kualitas sering mendatangkan masalah. Mereka yang mengejar jumlah itu bisa jadi lebih berambisi material, jasmani, sosial, dan kesuksesan duniawi. Mereka yang mengejar kualitas saja bisa jadi lebih elitis, eksklusif, dan tidak realistis. Jalan paling baik ialah keseimbangannya, yaitu jumlah yang diperlukan, sekaligus kita memberikan kualitas pada jumlah tersebut.
Misalnya, kehadiran kita di dalam komunitas atau keluarga kurang banyak, tapi dari kehadiran yang hanya sedikit itu dibuat berkualitas agar membawa pengaruh yang baik dan sehat. Kalau Anda berkecukupan rezeki, hendaknya kualitas kesejahteraan hidup lebih diperhatikan dan bermurah hati kepada orang lain yang kurang beruntung. Anda mungkin bertubuh kurus, tapi kesehatan harus baik. Anda kurang pintar, tapi bertanggung jawab. Kita wajib membuat keseimbangan hidup agar Tuhan berkenan kepada kita.
“Ya, Tuhan yang Mahamurah, semoga melalui bimbingan Roh-Mu, kami jadi pribadi-pribadi yang bijaksana agar hidup kami berkenan kepada-Mu dan sesama kami. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

