Ada seekor anjing betina dengan tiga anaknya yang sangat lucu. Pada pagi hari induk anjing itu membawa sejumlah tulang dari belakang dapur untuk santapan ketiga anaknya. Siang dan malam juga makanannya adalah tulang-tulang sisa makanan Tuannya. Dua hari berikutnya makanannya tetap berupa tulang-tulang. Tiga anak anjing itu mulai bosan dan berencana untuk melawan.
Ketiga anak anjing itu kompak mogok makan. Mereka memilih tidur atau bermain daripada makan tulang-tulang itu. Ketika mereka asyik dengan dirinya masing-masing, induk mereka membawa nasi goreng yang dibawanya dari dapur. Makanan enak itu terlanjur dibiarkan sampai rusak, dan anak-anak itu kecewa sekali mengetahui, bahwa yang dibawa induknya itu bukan tulang-tulang, melainkan nasi goreng yang paling enak.
Induk anjing itu adalah contoh penolong setia bagi anak-anaknya. Banyak dari kita adalah penolong yang baik dan setia. Seperti apa bentuk pertolongan dan bagaimana melakukannya, hal ini tentu sangat bergantung pada pribadi penolong. Pihak yang ditolong tidak usah tergoda berimajinasi tentang wujud pertolongan itu.
Lidia, seorang wanita Kristen mempersembahkan pertolongan penginapan kepada Paulus dan rombongannya. Itu adalah rahasia Lidia, penolong yang baik. Paulus dan Silas tidak perlu repot mengetahui semua isi rencana penolong wanita itu dan keluarganya.
Inilah yang dimaksudkan oleh renungan ini “tentang rahasia seorang penolong.” Apakah kita pernah tahu rahasia kehendak Tuhan yang menolong kita? Tidak pernah. Roh Kudus diutus Yesus Kristus dan Bapa-Nya dari Surga bagi kita, juga mempunyai rahasia sesuai kehendak-Nya. Yesus hanya membuka kartu dengan berkata, bahwa utusan-Nya itu adalah “Penasihat dan Pembela” kita. Pertolongan itu sepenuhnya sesuai kehendak-Nya. Kita tidak mempunyai wewenang untuk memaksakan keinginan kita kepada Roh Kudus. Yang jelas dan pasti itu adalah perbuatkan-Nya demi kebaikan dan keselamatan kita.
Sesungguhnya siapa pun dari kita yang mempunyai niat, rencana dan hakikat hidup untuk menolong, hendaknya didasari dengan prinsip cinta kasih. Pertolongannya harus pantas, positif, sehat, dan dengan tujuan untuk membawa kebaikan dan keselamatan bagi yang ditolong. Jangan pernah menolong sesama dengan cara dan tujuan jahat. Itu bukan menolong, tapi hanya memaksakan kehendak sendiri yang akan menjerumuskan pihak yang ditolong ke dalam kesulitan dan penderitaan.
“Tuhan Yesus Kristus, bantulah kami untuk meneladani-Mu dalam menolong sesama. Semoga kami terbuka dengan semua ajaran Roh Kudus-Mu. Kami juga meneladani Bunda-Mu, Perawan Maria yang adalah seorang penolong sejati. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

