Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
Red-Joss.com | Jumat, 24 Februari 2023, harian Kompas menurunkan di kolom “Surat kepada Redaksi,” sebuah “surat pembaca,” atas nama Gunawan Suryomurcito, Pondok Indah, Jakarta 12310.
Menarik untuk disimak, beliau menuliskan, jika AA Navis (1924-2003), dalam cerpennya “Robohnya Surau Kami” (1956), menyampaikan suatu ‘kritik sosial’ atas situasi masa itu, maka hari-hari ini kritik sosial yang senafas dengan pemikiran beliau menjadi aktual lagi.
Jangan-jangan yang roboh kali ini bukan surau, melainkan hati nurani kami.
Saudara, betapa tidak, duhhhh, turunnya sebuah gradasi kesadaran nurani telah melecut kesadaran kita sebagai sesama warga serta anak bangsa.
Mengapa hal-hal konyol ini, toh terjadi dan bahkan kian mewabah membanjiri telinga, mata, rasa, serta hati kita di depan wajah Ibunda, Ibu Pertiwi?
Media masa kita, memberitakan, “robohnya nurani kami” lewat getirnya pelecehan seksual di lembaga keagamaan, pembacokan, pengeroyokan yang berdampak kematian, pembunuhan berantai, pemerkosaan, kekerasan dalam rumah tangga, penyiksaan asisten rumah tangga, penghancuran mobil karena alasan sepele, seperti tidak habisnya di negeri tersayang ini.
Saudara, fenomena apa ini? Ada apa dan mengapa terjadi begini? Apakah hal ini, justru telah menelanjangi kita untuk sudi berani melihat fakta atas realitas ini, bahwa betapa sombrononya dan betapa konyolnya tabiat masyarakat kita ini.
Lewat fenomena ini, justru secara lugas transparan membuktikan bahwa bangsa kita telah kehilangan harga diri sebagai bangsa religius serta beradab?
Saudara, mungkinkah hadirnya realitas pahit pedih ini sebagai dampak dari sistem pendidikan keagamaan serta moral kita baru sebatas aspek kognitif, di level otak belaka. Juga, mungkin karena pendekatan pendidikan kita yang tidak membantin dan tidak menyentuh ranah nurani? Apakah juga karena tingkat kecerdasan emosi (EQ), warga kita sudah menumpul? Yah, jika praktik keagamaan kita hanya bersifat dagelan lahiria serta ritus keagamaan kita sekadar ‘show of force’, demi menggertak sesama. Maka, alangkah malangnya nasib bangsa kita.
Mari, kita tingkatkan kesadaran kita akan amanat dasar ajaran iman kita, “Cintailah Tuhanmu dengan segenap hatimu, serta kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.”
Ini, mimpi-mimpi besar para pendiri bangsa ini, seolah hanyalah sebuah slogan tanpa nyawa, dan kini, perlahan namun pasti, kita semua akan terperosok ke dalam kubangan kedunguan kita.
…
Kediri, 25 Februari 2023

