Paulus dan rekan-rekannya dilarang oleh Roh Kudus untuk memberitakan Injil di Asia dan Bitinia. Bukan karena tempat itu tidak penting, melainkan karena Allah mempunyai rencana dan waktu yang sempurna. Lalu, datanglah penglihatan: seorang pria Makedonia memohon pertolongan. Tanpa menunda atau banyak bertanya, Paulus berangkat. Inilah wajah ketaatan sejati; bukan hanya saat kita mengerti, melainkan juga saat arahnya belum sepenuhnya jelas; ketaatan yang bersandar pada kepercayaan, bukan pada pengertian manusia semata.
Dalam Injil, Yesus mengingatkan, “Jika dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku. Kita memang suka Injil yang menghibur, yang membawa damai, dan sukacita. Tapi kita perlu ingat, Injil juga menantang. Ia mengguncang kenyamanan dan nilai dunia. Dunia berkata, “Balas dendam itu wajar.” Yesus berkata, “Ampunilah.” Dunia memuliakan yang terdepan, Yesus memanggil kita jadi yang terakhir. Jangan heran, jika iman membuat kita ditolak atau disalahpahami. Itu bukan kegagalan. Itu justru tanda, bahwa kita sedang mengikuti jejak-Nya.
“Tuhan, berikanlah kami keberanian untuk tetap teguh dalam iman meskipun dunia menolak atau tidak mengerti jalan-Mu. Amin.”
Ziarah Batin

