Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com | Untuk kebutuhan hidup sehari-hari di komunitas tradisi, ada banyak temuan perabot rumah tangga. Umumnya dari bahan alam seperti kayu, tempurung, anyaman rotan dan daunan, bambu, batu, tembikar dan lainnya. Perabot rumah tangga untuk menyimpan makanan dari kebun ladang, untuk mengolah makanan, tempat makan dan juga kebutuhan lain di rumah, di kebun, di sungai dan di laut. Ada senjata, maupun alat untuk berbagai keperluan. Perabot rumah tangga itu berkembang, dalam sejarah tradisi keluarga dan komunitas kampung.
Ketika ada modernisasi, pabrik, pasar dan sarana transportasi masuk kampung tradisi, maka mulai dikenal perabot dari seng, plastik, kaca, dan porselin. Perabot tersebut dibeli sesuai kebutuhan dan kemampuan, dan saat yang sama perabot tradisional mulai tergeser, ditinggalkan. Ada banyak alasan, antara lain soal kemudahan perabot modern yang didapat dan dibeli. Ada juga perabot dengan listrik zaman now.
Perabot rumah tangga, dalam komunitas tradisi, ternyata tidak saja bermanfaat prakmatis, namun ada juga makna budaya dan spiritualnya. Misalnya perabot untuk kegiatan ritual adat budaya. Untuk komunitas adat tradisi, perabot rumah tangga serta suku budaya, ada yang khas dan masih dipertahankan. Selain untuk ritual, misalnya senjata. Ada makna spiritual dan identitas budaya bagi suku dan komunitas.
Zaman now, perabot rumah tangga dan kerajinan tradisi ini sudah berkembang dengan manfaat ekonomis. Misalnya untuk suvenir bagi para wisatawan. Contohnya, perabot anyaman tas, duplikat senjata, peralatan dapur, tembikar, dan lainnya. Dalam konteks manfaat ekonomis, perabot tradisi di komunitas adat perlu ada kreasi, inovasi, dan peningkatan ketrampilan pemasaran. Prinsipnya, suvenir disiapkan sesuai keperluan konsumen, wisatawan, bukan sesuai kebutuhan lokalย tradisional.

