Layaknya pendar lilin di sudut sepi, saya tidak berambisi menerangi seluruh kota untuk bermakna. Cukup dengan tetap menyala, memberi hangat bagi siapa pun yang singgah di dekatnya.
Momen tilik sedulur (menjenguk saudara) ini adalah saat di mana kekuatan Tuhan bertemu dengan kesetiaan waktu. Di hadapan para sesepuh yang telah kenyang pengalaman hidup, kesaksian saya akan jadi penghiburan yang menguatkan.
Para sedulur yang saya kasihi. Berkunjung di rumah panjenengan semua yang telah diberkati usia panjang adalah anugerah bagi saya. Beberapa waktu lalu saya merasa seolah sedang menjalani ‘Via Dolorosa’ saya sendiri; terjatuh berulang kali melalui patah bahu, stroke, hingga kebocoran katup jantung. Namun, di titik terendah itu, saya membuktikan sendiri, bahwa tangan Tuhan jauh lebih panjang daripada jurang penderitaan saya. Jika hari ini saya bisa berdiri di sini, itu bukan karena kekuatan otot atau jantung saya, melainkan karena mukjizat kebangkitan-Nya yang mengizinkan saya menghirup napas baru untuk terus berbakti dan menyambung silaturahmi dengan panjenengan semua.
Berkah Dalem.
Jlitheng

