Bahagia itu Hikmat dan Anugerah Allah

“Fakta: Orang yang senang gaduh itu menulikan hati, dan sekaligus membutakan jiwanya sendiri.” -Mas Redjo

Tidak harus terkaget-kaget dan menyumpah serapah. Lebih bijak itu bertanya pada diri sendiri: “Apakah kita hidup tenang, damai, dan bahagia?”

Dijamin: tidak! Orang yang hobi nyinyiran dan berkonflik itu hatinya selalu gelisah dan tiada damai, bahkan di dalam keluarganya sendiri!

Alasannya jelas, mulut yang ndower dan hobi menghakimi itu mencap semua orang itu salah, jelek, dan segudang gelar negatif lainnya. Terkecuali: untuk dirinya sendiri!

Saya tidak mau jadi bagian dan seorang dari mereka. Saya belajar dan terus berjuang agar mulut ini tidak mudah njeplak dan ndower, karena hobi nyinyir dan menghakimi orang lain.

Caranya, jika tidak sependapat dengan orang lain, atau melihat suatu hal yang tidak berkenan di hati agar saya tidak mudah reaktif, komentar, dan nyinyir. Tapi agar saya tetap tenang, berpikir positif, dan rendah hati.

Lebih bijak, jika saya diam tanpa komplain, menjauhi perbantahan, konflik, dan permusuhan.

Prioritas utama dan pertama itu adalah, jika orang lain melakukan hal buruk dan negatif itu agar tidak ditiru, diikuti, dan diteruskan ke orang lain. Apalagi dibantah lewat medsos. Karena berdebat di medsos itu tidak lebih (maaf) hanya menunjukkan kedangkalan berpikir, kebodohan, memutus urat malunya sendiri, dan hidup dalam aib.

Harap disadari pula, kemampuan kita terbatas dan tidak mungkin mampu memperbaiki semua itu. Kecuali lewat jalan kasih: “untuk berdamai dengan diri sendiri dan sesama serta doa ikhlas agar Allah berkenan mengubah hati kita.”

Alangkah bijak, jika prioritas utama dalam hidup ini adalah mengambil hikmat Allah untuk menuju hidup baik dan makin berkualitas.

Camkan! Kita tidak bisa mengubah dunia, tapi perubahan di dunia ini dapat dimulai dengan memperbaiki dan perubahan hidup sendiri agar berkenan bagi Allah.

Jangan lupa bahagia, Lur ❤️
Mas Redjo