Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Domine, Deduc Me in Via Aeterna“
“Tuhan, Tuntunlah Aku di Jalan Kekal”
(Mazmur 139: 24)
Siapakah Musafir Gurun itu?
Musafir Gurun adalah orang-orang yang sadar, bahwa dirinya sedang melintasi hidup yang sepi, kering, dan penuh ujian menuju ke sebuah tujuan yang tidak kelihatan dengan berbekalkan iman serta pengharapan.
Tiga Hal yang Terjadi di Gurun
- 1. Mati: identik dengan kematian, karena di danau pun tidak ada air dan makanan, serta secara simbolis, ‘ego’ manusia pun dikuliti di sini.
- 2. Bertemu: karena suasana yang sepi mencekam, akhirnya Anda pun hanya bertemu dengan diri Anda sendiri dan Tuhan yang setia menantimu.
- 3. Diutus: Nabi Musa, Nabi Elia, dan Yesus Kristus (semua diutus dan ke luar dari gurun dengan misinya).
Simbolisasi Siapakah Manusia Gurun itu?
Dalam tradisi iman: Bahwa bangsa Israel, Nabi Musa, Nabi Elia Yohanes Pembaptis, Yesus Kristus, serta para Bapak bangsa merekalah simbolisasi dari si Musafir Gurun.
Jadi, musafir gurun itu adalah simbol bagi setiap orang yang mencari Tuhan yang mau dimurnikan lewat kesepian dan ujian berat. Secara filosofi dan rohani, kita pun sebagai musafir Gurun: ya, kita adalah sang musafir gurun itu.
A. Secara Filosofis: Gurun itu sama dengan Kondidi Eksistensial Manusia
- 1. Hidup kita tidak memiliki peta yang lengkap : laksana musafir, kepada kita hanya diberi kompas nurani.
- 2. Kering: Ada kekosongan makna, di sana ada kekeringan rohani: jabatan boleh naik, tapi kita tetap merasa haus (itulah simbol dari gurun modern). Musafir gurun mengajarkan: jikalau kamu haus, jangan mencari dunia fatamorgana, tapi carilah Sumber Air Hidup.
- 3. Sepi: Ruang jadi diri sendiri. Gurun itu memang sepi, tapi justru di situlah tempat kita dididik. Tidak ada guru, juga tidak ada nilai, yang ada hanyalah sikap jujur dengan diri sendiri.
B. Secara Rohani: Gurun itu Sama dengan Jalan Pemurnian.
- 1. Gurun kerontokan berhala: selama di Gurun, Israel dipaksa untuk lepas dari daging di tanah Mesir. Sedangkan kita di gurun, dipaksa untuk melepaskan gengsi, jabatan, dan validasi.
- 2. Di gurun kita pun belajar untuk berseru, “Abba, ya, Bapak.” Di sini hanyalah langit sebagai penaung di gurun. Laksana doa sang musafir, “Tuhan, tolonglah.”
- 3. Gurun itu bukanlah tujuan, tapi sebagai jalan. Tuhan tidak bermaksud, bahwa Israel harus tinggal di gurun. Tapi tujuannya ialah tanah terjanji. Jadi, Gurun itu identik dengan “sekolah iman.”
Jadi, Sejatinya Siapakah Musafir Gurun itu?
Dia adalah kamu, aku, dan kita. Seperti, Nabi Musa yang selama 40 tahun berada di gurun, Israel pun 40 tahun mengembara di gurun, dan Yesus Kristus juga selama 40 hari berpuasa di gurun.
Angka ‘40’ yang tertulis di dalam Kitab Suci itu adalah waktu yang cukup bagi Tuhan untuk mendidik dan mengubah seseorang.
Refleksi
- Jadilah seorang Musafir Gurun, jika Anda sungguh ingin untuk dididik secara rohani.
- Di tempat inilah terjadi sebuah proses pembersihan dan pemurnian diri.
- Ibaratnya emas murni, yang baru kian berkualitas, justru setelah diuji lewat bara api nan panas membara.
Kediri, 4 Mei 2026

