Rasa nyaman kita sebagai manusia selalu terkait dengan hubungan antar pribadi satu dengan yang lain. Sedangkan rasa betah itu lebih terkait dengan suasana di sekeliling dengan hal atau barang yang dipakai. Misalnya merasa nyaman dengan teman-teman di dekat kita, dan pada saat yang sama kita juga betah dengan suasana kerja sama dan lingkungannya yang tenang.
Tuhan Yesus sebagai Gembala yang baik memberikan rasa nyaman dan betah itu. Yesus membuat kita nyaman bersama Dia dan sesama orang beriman. Yesus membuat kita betah berada di dalam rumah-Nya, yaitu Gereja, juga dengan semua pengajaran dan perintah-Nya. Ungkapan yang sangat pas untuk ini ialah yang dikatakan Yesus: “Jangan gelisah hatimu, percayalah kepada Allah, percayalah kepada-Ku. Bersama Bapa-Ku dan Aku, semua pasti jadi betah dan nyaman.”
Faktanya tidak semua orang itu sepikiran untuk jadi nyaman dan betah di dalam Kristus. Ada orang yang tidak langsung paham. Selalu ada interpretasi yang berbeda. Misalnya Rasul Thomas meminta ditunjukkan jalannya? Lalu Yesus berkata: “Aku adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup.” Penegasan ini sudah cukup untuk memperkuat rasa nyaman dan betah kita bersama dengan Dia.
Yesus memberikan kuasa kepada para pelayan Gereja untuk memberikan rasa nyaman dan betah ini bagi setiap umat Allah. Seperti Petrus, Santo Paulus juga berdiri pada level otoritas pengajaran yang sama, berkhotbah tentang semua kebenaran dalam Yesus Kristus. Hal ini sungguh memberikan rasa nyaman dan betah bagi semua pendengarnya, terutama kaum non-Yahudi yang belum percaya yang sangat kritis dan skeptis. Mereka bisa menerima pengajaran Paulus dan akhirnya memilih untuk jadi pengikut Kristus.
Lalu pertanyaannya ialah, siapakah yang paling bertanggung jawab dengan rasa nyaman dan betah ini? Yang jelas bukan Tuhan dan para pemimpin Gereja yang bertanggung jawab. Mereka memberikan perhatian dan kasih sayang atas nama cinta. Jadi nyaman dan betah itu bukan pertama-tama urusan mereka. Melainkan rasa nyaman dan betah itu harus pertama-tama diciptakan oleh kita, setiap pribadi.
Hal ini sama dengan kenyataan, bahwa bukan urusan kita untuk menolak atau menerima Ibu Bapak kita. Mereka adalah karunia Tuhan bagi kita masing-masing. Tapi hal tentang rasa nyaman dengan Ibu dan Bapa itu adalah tanggung jawab setiap sendiri. Anda dan saya harus menciptakannya. Rasa betah dan nyaman dengan Tuhan dan Gereja merupakan tanggung jawab kita sendiri.
“Ya, Tuhan yang Mahakuasa, kami memuji-Mu, karena kemuliaan dan kebesaran-Mu menaungi seluruh hidup kami. Perkuatkan rasa nyaman dan betah kami, sehingga dapat mempersembahkan diri kami dengan lebih tulus kepada-Mu dan kepada sesama kami. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

