Sebagai manusia, tubuh kami mudah lelah didera cedera oleh fisik yang melemah. Tapi dalam ketidakberdayaan ini, Yesus, Maria, dan Yosef jadi sosok penyangga daya langkah kami.
Mantra penyangga kami itu adalah ‘iman’, bahwa: di titik paling rapuh sekalipun, penyertaan-Nya tetap utuh.
Pagi ini, ketika kami menapakkan kaki di Lampung, rasa syukur itu kian nyata. Di saat kami merasa tidak mempunyai apa-apa lagi untuk bertahan, di situlah perlindungan-Nya bekerja paling nyata.
Berdua dengan istri, kami membawa ‘mantra’ ini untuk Kakak yang juga tengah rapuh. Kami datang untuk saling meneguhkan, bahwa ‘Gusti ora sare’. Tuhan tidak tidur.
Selamat mendaraskan Rosari di awal Mei ini.
Berkah Dalem.
Jlitheng

