Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Tiga sahabat yang menguntungkan: sahabat yang lurus, sahabat yang jujur, dan sahabat yang mau mendengarkan.”
(Kongzi)
Sydney Smith, pernah mengekspresikan serangkaian kata mutiara, “Hidup ini sepatutnya diperkaya dengan persahabatan. Mencintai dan dicintai adalah kebahagiaan yang tak terperikan.”
Dialog antara Filsuf Socrates dan Pria tua
Suatu hari, filsuf Socrates bertanya kepada seorang Pria tua tentang apa yang paling vital dan pantas disyukuri di dalam hidupnya.
Pria tua itu menjawab, “Hal yang paling vital dan pantas disyukuri, meskipun hidupku secara materi memang kurang, tapi saya masih memiliki sahabat yang begitu setia hingga saat ini.”
“Bagiku, jika tidak ada seseorang yang mengasihi kita, hidup ini terasa hampa. Dia melihat diriku apa adanya dan aku pun demikian. Apa pun keadaan kami, biasanya selalu kami kisahkan bersama,” lanjutnya.
Malcom Forbes berkata, “Tanpa sahabat sejati, bahkan seorang jutawan itu merupakan orang yang termiskin di dunia ini.”
Ternyata misteri dari suatu persahabatan sejati itu, “justru bermula dari diri sendiri dulu. Karena akulah aktor sentralnya. Aku perlu terus belajar untuk memahami, bersikap jujur, tulus, dan setia sejati. Tanpa sikap-sikap itu, mustahil suatu persahabatan itu akan bertahan.”
(Inspirasi Lima Menit)
Berdasarkan Aspek Sejarah, Filsafat, dan Realita Manusia
Ada Tiga Hal Utama Berdampak Vitalnya Persahabatan Sejati!
- 1. Persahabatan itu cermin yang jujur
Kamu boleh saja berbohong kepada banyak orang, bahkan kepada dirimu sendiri. Tapi ingat, sahabat sejati yang memegang cermin tanpa bikin kamu merasa dipermalukan.
“Philia,” Kasihlah yang membuatmu bermanfaat atau kesenangan, karena “aku mencintaimu dan kamu adalah kamu.” Demikian statemen dari filsuf Aristoteles.
- 2. Persahabatan itu jangkar di saat badai.
Elang Rajawali bisa terbang sendiri, tapi manusia tidak dirancang untuk itu. “Co-regulation:” adalah sistem saraf kita tenang, jikalau ada orang yang aman di dekat kita.
Di dalam kehidupan rohani itu disebut ‘komunitas’. Dalam hidup Kongzi, itu disebut ‘junzi’ yang saling menguatkan dalam ‘li’ dan ‘re’. Satu sahabat sejati itu bisa jadi sebagai pengingat saat kamu hampir menyerah: “Hei, kamu bukan itu. Kamu lebih dari hari burukmu.”
- 3. Persahabatan itu tempat kebenaran tumbuh perlahan.
Jika cinta romantis itu sangat cepat menyala. Relasi kerja itu transaksional. Tidaklah demikian dengan persahabatan sejati, ia lambat seperti kayu yang jadi arang, hitam, padat, panas, dan tak mudah padam.
Di sanalah suatu kebenaran itu diuji. Bukan di atas panggung, melainkan di dapur pada pukul dua pagi waktu kamu lagi gagal. Sahabat sejati itu tak akan bertepuk tangan. Ia tetap akan duduk diam. Lalu berujar, “Ok, sekarang mau bangun, bagaimana?”
Amanat untuk Zaman ini
Di zaman ini, kita boleh mempunyai 5000 sahabat di layar kaca, tapi banyak yang justru kesepian.
Mengapa demikian? Ya, karena mayoritas relasi itu sekadar ‘konsumsi’ dan bukan ‘komuni.’
Ketahuilah, konsumsi itu butuh hiburan. Tapi Komuni itu butuh kesetiaan.
Refleksi
Vitalnya Perdahabatan Sejati
Dia akan membuatmu tetap jadi seorang manusia di saat dunia mendesakmu untuk jadi mesin. Dia akan membuatmu berani untuk jadi dirimu sendiri di saat dunia mendesakmu untuk jadi versi yang diminati banyak orang.
Sekali lagi, “Tiga Orang Sahabat Setiamu!”
- Satu, sahabat yang lurus.
- Dua, sahabat yang jujur.
- Tiga, sahabat yang siap mendengarkan.
Kediri, 1 Mei 2006

