Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Setiap hal yang ‘gampang’ di dunia ini, pernah ‘mustahil’.”
(Hukum Telur Colombus)
Tulisan ini Bertolak dari Sebuah Kesadaranku
Tulisan imajinatif, inspiratif, dan reflektif ini mengalir dari dalam kesadaranku, demi mengabarkan kepada semesta, bahwa mari kita menghargai setiap upaya dari semua orang yang telah melakukan sesuatu yang: baik mulia, dan bermartabat bagi kehidupan ini. Hindarilah sikap mau meremehkan nilai-nilai perjuangan dari orang itu.
“Telur Colombus” itu adalah sekeping cermin yang paling lugu dan jujur demi membongkar mental manusia yang suka meremehkan!
- Historisitas
Bertolak dari cerita Girolamo Benzoni (1565). Sekembalinya Christoforus Colombus dari Amerika, banyak bangsawan Spanyol yang bersikap iri hati.
“Ah, berlayar ke Barat doang. Siapa pun juga bisa kalau dikasih kapal.”
Colombus merasa ditantang. Dia pun mengambil sebutir telur, ditaruhnya di atas meja, “Siapa yang bisa bikin telur ini berdiri?” Semua bangsawan pun mencobanya, tapi gagal. Telur itu selalu terguling.
Colombus mengambil telur itu, pecahkan sedikit ujungnya, lalu telur itu pun berdiri.
Semua bangsawan protes: “Ya, jika demikian, maka kami pun bisa.” Colombus menjawab, “Bedanya, kalian baru bisa setelah saya mempraktikkan caranya, bukan?”
Maka: Hal yang terlihat mudah itu setelah ada yang berhasil melakukannya, sebenarnya sulit saat pertama kali dipikirkan. Ide itu, murah setelah lahir. Mahal, saat masih terbungkukus di dalam kepala.
- Tinjauan Filosofis: Mengapa Manusia itu Ternyata Suka Meremehkan sesuatu?
Inilah yang dinamakan “Hindsight Bias” atau bahasa kerennya, “Kutukan Pengetahuan.” Begitu manusia tahu jawabannya, maka otak manusia menipu dirinya sendiri. “Dulu, juga aku sudah pikirkan seperti itu.”
Apa Akar Filosofinya?
- Pandangan filsuf Nietzsche-Ressenti ment: bahwa orang yang tidak mampu menciptakan, akan membenci orang yang menciptakan. Bagaimana caranya? Ya, dengan meremehkan.
- Pandangan filsuf Sartre-Pandangan orang lain: manusia itu akan cemas saat melihat orang lain bebas dan berhasil.
- Pandangan filsuf Stoikisme: “Kita ini tidak terganggu oleh sebuah peristiwa, tapi oleh penilaian kita atas peristiwa itu (Epictetus).
Ada pun Inti Gagasannya adalah: “Meremehkan itu bukan tentang kamu yang ‘gampang.’ Melainkan tentang dia yang ‘tidak sanggup menerima’, bahwa dia tidak sanggup melakukan hal itu lebih dulu.”
- Faktor Penyebab Mental “Saya juga Bisa”
Setidaknya Terdapat Sejumlah Faktor Penyebabnya, antara lain:
- a. Ego Defence Mechanism: Bahwa otak manusia tidak tahan, melihat orang lain lebih dulu. Maka, sikap meremehkan itu sebagai tameng, agar egonya tidak terluka.
- b. Ignorance of Process: Orang hanya mau melihat hasil akhir: yakni telur yang sudah bisa berdiri, tapi dia tidak sudi melihat prosesnya.
- c. Iri hati yang dibungkus logika: Sebetulnya itu hanya luapan emosi primitif. Agar tampak pintar, maka iri hati dibungkus kalimat logis: “Secara teknis hal itu tidak sulit.” Padahal isi hatinya “Kenapa bukan saya yang lebih dulu berpikir.”
- d. Budak si ‘Sumbu Pendek’” Masyarakat kita yang tidak mampu menghargai sebuah proses, hanya memuji hasil secara instan. “Eleh, hanya seperti itu, koq mau viral.”
- Bagaimana Kita Menyikapinya?
Jika kelak Anda dituduh, “Saya juga bisa!” Maka, jawablah ala Colonbus, “Benar, Saudara. Saya senang Saudara juga bisa. Sekarang giliran Saudara untuk mencoba hal yang belum ada yang bisa melakukannya.”
Refleksi
- Ingat dan camkan! “Hukum Telur Colombus”
- “Setiap hal yang “gampang” dilakukan di dunia ini, pernah “mustahil.”
- Di satu titik sejarah, hormatilah si dia yang pertama kali berdarah-darah. Karena di suatu hari kamu pun ingin dihormati, bukan?
- Dunia ini penuh dengan ‘dua jenis manusia’: Yang memecahkan telur agar bisa berdiri, dan orang yang memecahkan spirit orang lain agar idenya tidak pernah bisa berdiri.
Ingatlah! Sejarah hanya mencatat nama orang yang pertama.
Kediri, 28 April 2026

