Yang membedakan antara murid otentik dan yang bukan ialah: ketekunan, kesetiaan, dan produktivitas. Santo Markus Penginjil digolongkan dalam murid otentik, karena ia memenuhi tiga kriteria tersebut. Ia tekun sebagai murid Rasul Petrus, setia pada ajaran-ajaran Yesus Kristus, dan berproduktif dalam perjalanan misioner Gereja perdana.
Berguru kepada seorang Guru yang baik merupakan pengalaman istimewa setiap murid. Relasi yang formatif dan penuh kepercayaan ini menumbuhkan fondasi pembentukan diri dan pembelajaran yang sesungguhnya bagi murid. Pengalaman Petrus dan Markus cukup menggambarkan, bahwa berkat Tuhan Yesus Kristus dan bimbingan Roh Kudus telah membuahkan di dalam mereka suatu kerja sama yang ideal dalam terlaksananya perutusan Gereja Perdana. Santo Petrus mengungkapkan hubungan ini dengan menyebut Markus sebagai anaknya sendiri.
Persekutuan yang kuat antara Guru dan murid dan dapat diperbesar lingkupnya jadi orangtua dan anak, Tuhan dan manusia merupakan suatu kekuatan. Apalagi, kalau persekutuan itu dapat disamakan dengan sebuah senjata yang ampuh. Manfaat kekuatan ini ialah, seperti yang diuraikan dalam surat Santo Petrus yang pertama (5, 6-14): lawanlah Iblis yang berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-ngaum mencari orang untuk ditelannya, lawanlah itu dengan iman yang teguh. Ini adalah tandanya jadi murid Yesus yang sesungguhnya.
Markus terbukti sangat setia pada ajaran-ajaran Yesus Kristus, yang pada akhirnya mencapai panggilannya sebagai seorang penulis Injil. Roh Yesus Kristus sungguh bekerja dalam dirinya, terutama menginspirasikan untuk ditulis. Tradisi suci Gereja menyebutkan, bahwa Injil ini mendekati yang otentik. Hal ini menegaskan, bahwa Injil Markus merupakan Injil paling pertama ditulis, dibandingkan ke-3 Injil lainnya. Luas tulisannya paling sedikit atau singkat, dan menurut tradisi tulisan seperti itu lebih mendekati aslinya.
Mengikuti pesan Yesus supaya para Rasul dan murid pergi seluruh dunia untuk mewartakan Injil kepada segala bangsa, Markus mengambil tugas ini dengan serius. Ia jadi teman perjalanan Petrus di sekitar dunia Timur Tengah, lalu masuk ke Roma dan Eropa. Tradisi ini menyebutkan, bahwa St. Petrus wafat sebagai martir di Roma, sedangkan St. Markus menjelajahi Italia dan dipercaya wafat di bagian utara Italia.
“Ya, Tuhan yang Mahabaik, terima kasih atas pilihan-Mu pada penginjil Markus yang mengajarkan kami tentang kebenaran-Mu. Semoga kami makin mencintai Kitab Suci. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

