“Obat bantuan, tubuh menyembuhkan, Tuhan yang menyembuhkan dan menyelamatkan.” -Rio, Scj
Obat itu dibuat untuk penyakit. Penyakit muncul, karena obat. Begitu hukum alam berbicara. Nyatanya makin sering kita berobat kian sering kita sakit. Benarkah obat itu lebih banyak memproduksi penyakit lewat pintu belakang? Tentu obat itu dibuat dengan motivasi menyembuhkan, tapi penyakit terlalu pintar.
Banyak penyakit muncul dari dalam, hanya sebagian saja dari luar. Tidak kuasa menahan godaan makanan. Tak seimbang antara yang dimakan dan energi yang dikeluarkan. Maunya rebahan sambil ngemil dan makan, ogah olahraga dan gerak badan. Jadinya lemak bertaburan, tubuh kegendutan. Kamera ikut disalahkan. Kerja organ tubuh pun kelimpungan.
Keseimbangan itu adalah kuncinya. Ada rumus kosmik yang disembunyikan untuk jadi sehat: kedamaian hati, jiwa, dan pikiran itulah obat yang paling mujarab. Resep yang mengalahkan semua resep dari dokter. Dia adalah benteng dan imunisasi otonom. Sebuah api kesehatan percikan inti kosmik yang tidak disadari, apalagi kita praktekan. Alam mempunyai caranya tersendiri untuk memulihkan. Tubuh juga mempunyai caranya untuk memulihkan. Obat membantu dan merangsang untuk membangkitkan daya alami menyembuhkan.
Berhentilah bangga mempunyai dokter pribadi, kalau penyakit makin menjadi. Jangan sombong bisa berobat ke dokter spesialis, bila bahagia dan damai itu tidak ada. Jangan bangga bisa membeli kesehatan dengan obat mahal. Dokter itu pelayan kesehatan. Dia hanya membantu, mendiagnosis dan melayani dengan ragam resep obat yang dibutuhkan. Obat hanya bantuan, sementara tubuhlah yang menyembuhkan. Ingatlah ada Tabib Agung, yaitu Tuhan. Dia bukan hanya menyembuhkan, tapi menghidupkan. Jaga kedamaian hati, jiwa, dan pikiran.
Deo gratias.
Rm RP Rio, Scj

