Kulihat Ibu Pertiwi
basah kuyup diguyur air mata
Hujan senja mengguyur alam jiwa raga
entah balita, anak remaja dan orangtua
apalagi galau kaum perempuan dan para Ibu
Malam sudah tiba dihiasi bintang
terasa segar sejuk setelah hujan
Entah cuaca berpengaruh pada rasa manusia
karena sejatinya insan hanya bagian kecil dari semesta
Melangkah menyusuri lorong sunyi
raungan perut memaksa mencari
seteguk air dan sesuap nasi
Rupanya bagi raga sangat berarti
Memang hidup bukan untuk makan minum
Tetapi
tanpa makan minum raga pasti mati
Bahkan demi makan minum itulah
orang berani gila bertindak dan merobek hati sanubari
Saat melangkah di trotoar
sekawanan tikus berpesta pora gebyar
bahkan kucing pun diam tak bercakar
Kecoa-kecoa menari di tembok selokan
Kendaraan kembali menderu di jalanan
Gemerlap lampu kota membuai mata
setiap insan berkreasi dalam gulita
Hanya detak waktu dan angin yang merekam pasti
apa dan siapa setiap pribadi
Ibunda Pertiwi terus menangis
membasahi ruang dan waktu
Entah sampai kapan akan sirna
Air mata anak-anak manusia mengalir
terus membasuh wajah Ibu bumi
Entah mengapa dan kapan usai
Air mata angkasa turun mengguyur
membilas nasib manusia dan Ibu bumi
Inikah dinamika misteri inkarnasi?
Sejatinya hidup manusia ada suka duka
namun ada fakta pribadi, kelompok dan bangsa
Selalu dirundung lara derita nestapa
bahkan terus direnggut nyawanya
dari tengah tanah lahirnya yang kaya raya
Harapan dan air mata ditabur ke bumi
Jeritan dan doa melambung ke angkasa
Namun hanya diam tanpa jawaban lega
Inikah takdir dari Sang Pencipta

