“Kesepian itu bukan untuk ditakuti, melainkan ia adalah ruang jujur mengenal diri.” -Stoa
Bersama para Romo sepuh itu menenangkan dan menyadarkan saya. Bahwa makin dewasa, hidup ini terasa kian sepi. Bukan karena tidak ada orang di sekitar kita, melainkan karena makin sedikit yang benar-benar mengerti. Bukan karena keinginan yang padam, melainlan karena fisik yang tidak lagi bisa dibohongi. Bukan karena hidup rohani kosong, melainlan tidak ada pilihan lain selain mempersiapkan diri untuk akhir kehidupan.
Teman-teman mulai sibuk dengan hidupnya masing-masing. Dulu diingat, sekarang dilupakan. Dulu hebat sekarang seolah tidak ada gunanya. Percakapan yang dulu hangat perlahan jadi singkat. Tidak semua hal bisa diceritakan seperti dulu lagi. Yang terulang hanyalah satu kata dulu …, dan dulu…
Stoik mengajarkan, bahwa kesepian itu bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Melainkan adalah ruang untuk mengenal diri sendiri tanpa gangguan dunia. Mungkin pada titik ini, kita mulai mengerti bahwa tidak semua perjalanan harus ditemani dan tidak semua sepi berarti kita kehilangan.
Hidup itu tidak pernah berjanji untuk menjaga apa pun tetap utuh. Semua yang datang dalam hidup ini bersifat sementara termasuk hal-hal yang paling dicintai. Rasa sakit itu muncul bukan karena kehilangan itu sendiri, melainkan karena kita berharap semuanya akan bertahan selamanya. Kedewasaan itu bukan tentang menghindari kehilangan, melainkan tentang belajar tetap berdiri, meski sebagian hidup kita telah pergi. Karena pada akhirnya yang tidak pernah bisa direbut dari kita adalah bagaimana kita memilih untuk menerima, bertumbuh dalam iman, dan terus melangkah dengan tenang.
Deo gratias.
Rm RP Rio, Scj

