Tapi Ia berkata kepada mereka: “Aku ini, jangan takut!” (Yoh 6: 20).
Hidup sering membuat kita seperti pendaki yang tersesat di tengah kabut tebal. Panik dan bingung dapat membuat langkah kita salah arah. Namun, saat kita berhenti, menarik napas, dan menenangkan hati, perlahan kita mulai melihat jalan yang semula tersembunyi.
Demikian pula dengan hidup rohani kita. Kesabaran menolong kita tetap tenang di tengah kecemasan dan berbagai kesulitan. Dalam ketenangan itu, pikiran jadi jernih, sehingga kita lebih mudah membuka hati kepada Tuhan. Kerendahan hati juga menolong kita untuk mengakui kelemahan dan keterbatasan diri. Kedua kebajikan ini menghadirkan kedamaian batin yang memampukan kita menghadapi kelemahan diri sendiri dan menaklukkan godaan yang datang menghampiri.
Saat gelombang hidup menakutkan dan kita merasa seperti murid-murid yang diterpa angin sakal di tengah danau, Yesus meneguhkan dengan sabda-Nya: “Aku ini, jangan takut!” Jika kita bersabar dan rendah hati, maka kita akan mampu mendengar suara-Nya, bersandar pada-Nya, dan melangkah dengan damai, serta yakin, bahwa Tuhan selalu menyertai kita.
Sr. M. Vianne, P. Karm
Sabtu, 18 April 2026
Kis 6: 1-7 Mzm 33: 1-2.4-5.18-19 Yoh 6: 16-21
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

