Mukjizat itu tidak terjadi, bila kita acuh tak acuh, tidak saling peduli, dan tidak mau berbagi. Sebaliknya, bukan hanya mukjizat terjadi, tapi Tuhan akan melakukan mukjizat dengan yang kita miliki sekecil apa pun itu, ketika kita saling peduli dan memperhatikan. Percayalah, bahwa yang sedikit, kecil, dan tidak berarti di tangan dan mata kita, pasti akan berkelimpahan di tangan Tuhan dan sesama yang memerlukannya.
Kita diberikan contoh yang bagus tentang pernyataan di atas, “Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?” (Yoh. 6: 9). Lalu diserahkannya lima roti dan dua ikan itu kepada Yesus, dan inilah yang terjadi, “Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki” (Yoh. 6: 11).
Bahkan diceritakan, bahwa sekalipun banyak orang, tapi roti dan ikan itu lebih dari cukup sehingga masih ada sisanya. “Mereka mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan” (Yoh. 6: 13).
Pelajaran penting bagi kita:
- 1) Syukurilah atas semua yang Anda miliki saat ini;
- 2) Berbagilah kepada mereka yang memerlukan dari yang Anda miliki sekecil apa pun itu. Bukankah sepotong roti bagi Anda yang kenyang roti itu tidak berarti, tapi bagi si lapar roti adalah sebuah mukjizat?
Ingatlah jangan menunggu sampai kaya dan berkecukupan barulah berbagi, tapi mulailah berbagi, maka sesungguhnya Anda adalah orang kaya itu.
Monsignor Inno Ngutra, Pr

