Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com | Karena banyak anggota komunitas adat budaya kampung pergi merantau atau berpindah meninggalkan kampung, maka banyak aspek tradisi ikut berpindah. Salah satunya ialah soal warisan kesenian tradisi adat budaya. Ada seni musik, seni tari, seni sastra dan beberapa seni kerajinan khas adat budaya kampung. Rupanya, ketika ada di perantauan, entah dari kampung ke kota, atau juga ke luar pulau, maka kerinduan untuk berkumpul sesama asal kampung cukup tinggi. Misalnya saat ada acara pesta dan kedukaan, juga dengan membentuk kelompok untuk kegiatan lainnya.
Yang banyak terjadi, antara lain kegiatan arisan serta semacam perkumpulan paguyuban berdasarkan kesamaan asal adat budaya, maupun wilayah administrasi pemerintahan asal. Ada semacam kebutuhan untuk menyatakan identitas diri dan kelompok suku budaya berdasarkan asal usul kampung.
Dalam kebersamaan itu, sering ditampilkan kesenian tradisi adat budaya kampung, sebagai ekspresi kerinduan maupun identitas budaya. Ada juga beberapa paguyuban yang membangun sanggar seni budaya tradisi, baik untuk keperluan kelompok, maupun untuk melayani kebutuhan pihak luar. Kesenian tradisi adat budaya dari kampung bermigrasi, dari kampung ke luar daerah, sesuai lokasi perantauan dari anggota komunitas kampung. Ada juga kegiatan seni budaya lintas suku budaya, yang digelar di wilayah kota, baik oleh pihak pemerintah atau organisasi kebudayaan profesional.
Migrasi kesenian tradisi adat budaya kampung adalah sebuah fenomena menarik. Dalam pengamatan saya selama ini, justru banyak kesenian yang hampir ditinggalkan di komunitas kampung asal, malahan berkembang dan dilestarikan oleh komunitas kampung di perantauan. Ada juga yang jadi semacam usaha ekonomi kreatif. Mungkin, karena jauh merantau, ada kerinduan akan kampung kelahiran, bahkan dengan berkesenian merupakan salah satu bentuk untuk mengekspresikan identitas budaya asal usul.
Ada fenomena lain, kesenian tradisi adat budaya kampung itu masuk juga ke sekolah. Hal ini berkaitan dengan adanya mata pelajaran muatan lokal, serta hadirnya sanggar seni budaya tradisi di lingkungan pendidikan formal. Dalam konteks tersebut, ada juga kreasi dan inovasi kesenian. Karena konteks kepentingan berbeda dengan konteks kampung asal kesenian, maka terjadilah upaya penyesuaian. Misalnya, durasi dan tempat pementasan kesenian tradisi.
Kesenian tradisi kampung menjadi model kreasi kesenian etnik untuk kegiatan hiburan, parade dan festival yang dilakukan oleh anak-anak lintas asal adat budaya. Sering terdengar semacam diskusi, bahkan perdebatan tentang kesenian asli tradisi dan bukan tradisi. Namun, fakta yang terjadi adalah adanya banyak kreasi dan inovasi kesenian tradisi, sesuai kebutuhan zaman now di luar konteks dan kepentingan di kampung tempat asal usulnya kesenian tradisi tersebut. Ada migrasi, kreasi dan inovasi kesenian tradisi kampung adat budaya, di luar konteks asal usulnya kesenian tradisi tersebut.

