Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Non Nobis Solum Nati Sumus” “Kita tidak Dilahirkan hanya untuk Diri Sendiri”
(Cicero)
Bring Something to the Table
Tulisan ini diturunkan, bertolak dari ketertarikan saya pada sebuah peri bahasa Inggris, “Bring someting to the table.” “Bawalah sesuatu ke atas meja.”
Peri bahasa nan indah ini bermaknakan!
“Menyumbangkan kontribusi, potensi, nilai, atau manfaat dalam suatu kerja sama, rapat, atau relasi sosial lainnya.
Filosofi di Balik Peri Bahasa “Membawa Sesuatu ke Atas Meja”
Jika kita tarik ke (radiks), atau akarnya, maka tindakan mulia ini dapat dilandasi oleh tiga (3) filosofi besar.
- Prinsip Timbal balik (resiprositas): adalah sebuah filosofi kuno yang bermakna, “Jangan datang dengan tangan kosong.” “Tepo seliro,” dalam budaya Jawa. Dalam antropologi dan konsep ‘gift economy’, bahwa hubungan yang sehat itu, justru saling memberi.
- Prinsip Etika Tanggung jawab Eksistensial: Jeal Paul Sartre bilang, “Kita dihukum untuk bebas,” artinya “setiap tindakan kita pada dasarnya adalah sebuah pilihan.” Jika diluaskan dimaksudkan, bahwa “kehadiranku itu sebagai subjek dan bukan sebagai beban.” Maka, dalam konteks ini, eksistensimu pun akan jadi kian bermakna.
- Konsep Value Creation dalam Komunal: Filsuf Aristoteles menyebut, manusia adalah “Zoon politicon,” “Manusia itu baru utuh, jika ia dapat hidup bersama.”
Bertolak dari ketiga konsep bermakna ini, bahwa “Martabat manusia itu tidak datang dari yang didapati, tetapi justru dari yang kita persembahkan.”
Sebuah ‘kontribusi itu senantiasa dianggap sebagai sebuah kemuliaan’, karena dia menolak mentalitas ‘entitled’ dan menggantinya dengan mentalitas mempersembahkan.
Ubi Societas, Ibi Officium
Cicero menawarkan adagium, “Ubi Societas, ibi Officium,” “Di mana ada kebersamaan, di sana ada kewajiban.” Bahwa terdapat tiga (3) buah kewajiban yang paling mendasar, yaitu:
- 1. Lustitia: bersikap adil, artinya tidak mengambil, apa yang bukan milikku.
- 2. Beneficentia: berbuatlah kebaikan, maka akan bermanfaat.
- 3. Fides: pribadi yang bisa dipercaya, dengan teguh memegang janji.
(Dari berbagai Sumber)
Refleksi
“Manusia itu Makhluk Meja Bundar”
Sebuah filosofi nan indah dan bermakna!
- Di sana tidak terdapat kepala meja: artinya tidak ada yang lebih tinggi (Semua yang duduk mengitari meja bundar itu setara).
- Semua saling berhadapan: saling melihat dan tidak ada yang terlindung.
- Meja itu hanya berguna, jika ada sesuatu yang ditaruh di atasnya: (yang ditaruh di atasnya adalah: ide segar, power dasyat, empati tulus, serta kontribusi).
- Bentuknya bundar: berkelanjutan, lingkaran yang tidak berujung. Ia sebagai sebuah siklus: jika hari ini diberi, maka besok akan memberi.
Bukankah, makhluk manusia itu diciptakan untuk duduk setara, saling memberi secara timbal balik?
Kediri, 14 April 2026

