Kebetulan simbok itu ‘Maria’ dan Bapak itu ‘Thomas’, karakter yang nyaris berlawanan.
Diakhir hayat, ada kedekatan, terutama cara keduanya menjalani hidup: “Sedih olèh, ngrintih ojo” itu adalah sebuah pegangan hidup yang mengajarkan tentang ketangguhan dan kemandirian dalam balutan etika Jawa yang halus. Singkatnya: “Tenang seperti Maria, tapi tidak lebay seperti Thomas.”
Wajar, kalau kita merasa sedih atau menangis di waktu susah, karena kita ini bukan robot. Melainkan orangtua yang mewanti-wanti: “jangan sampai kita merintih-rintih atau mengeluh ke sana-kemari,” apalagi ngambek kepada Tuhan di depan orang banyak.
Mengapa? Menjaga sikap di depan umum itu cara kita menjaga diri. Tetap tegar meski hati lagi olèng itu bukti kita mempunyai mental yang kuat. Sedihnya ditelan, tapi di depan orang tetap berdiri tegak. Itu cara terbaik menghargai diri sendiri dan perjuangan orangtua yang sudah membesarkan kita.
Intinya: kita mempunyai kendali penuh atas diri sendiri, meski keadaan sedang tidak oke. Itu yang membuat kita berbeda dan tetap mempunyai ‘kelas’.
Berkah Dalem.
Jlitheng

