“Ketika menomor-satukan materi, ternyata kita kehilangan Yang Ilahi.” -Mas Redjo
…
Syok berat! Realitas itu yang terjadi di sekitar kita, ketika harga barang-barang kebutuhan melonjak drastis! Pelaku usaha rumahan kaget, syok, limbung, dan bahkan banyak yang berhenti produksi, alias tutup! Miris!
Imbas dari harga kebutuhan yang melonjak drastis itu tidak hanya membuat berjuta orang bingung dan linglung. Tapi juga ditenggarai munculnya PO gaib yang mendera emosi dan mengaduk-aduk benak ini.
Bagaimana tidak. Munculnya PO gaib itu dialami oleh pelaku usaha, umumnya yang mengandalkan bahan-bahan impor. Konyol dan tragisnya, tiba-tiba PO pemesanan barang mereka itu dianggap tidak pernah ada, alias hilang gaib. Gara-garanya adalah harga barang yang melonjak drastis, tanpa ada regulasi yang mengontrolnya.
Fakta yang beredar adalah, lebih menyakitkan lagi. Setelah PO gaib, importir lalu meminta pembayaran di depan dan tunai, kepada para pelanggannya, jika ingin diberi barang. Bagi yang pelanggan yang menolak itu bakal tidak dilayani dan dicuwekin, berarti barang kosong dan tidak berjualan.
Lingkaran kekonyolan dan tidak bertanggung jawab itu terjadi dari importir ke produsen, lalu ke agen. Karena agen memesan ke produsen (pabrik), juga jadi PO gaib, alias batal, atau dianggap tidak ada. Produsen juga menekan ke agen agar membayar pesanan barang itu lebih cepat, jika agen itu menolak, berarti tidak diberi barang.
Saling mengancam dan memaksa itu meluruhkan kepercayaan dan hubungan baik demi menangguk untung sebanyak-banyaknya. Memutus relasi dan hilang peduli itu demi menimbun materi. Pemodal kuat yang merasa dibutuhkan itu rela menjual hati nuraninya sendiri. Tragis!
Sebagai penggoreng, pelaku usaha kecil, reaksi kita mendengar kisah dari Bos toko pelanggan itu hanya bisa menarik nafas panjang. Meski masgul dan kecewa berat, tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa, selain sabar dan tawakal dengan sikon yang tidak bersahabat itu.
“Pabrik atau toko itu berbohong, karena ingin menangguk untung besar?”
Tidak ada guna kita berprasangka jahat dan berpikir negatif, karena itu meracuni diri sendiri.
Alangkah bijak, jika kita mengambil hikmah dari peristiwa pahit getir itu untuk berbenah di seluruh sektor usaha dan memperbaikinya guna menuju masa depan yang makin baik.
“Alon-alon asal kelakon. Niat ingsun!”
…
Mas Redjo

