“Kata yang ke luar dari amarah menghancurkan, yang lahir dari ketenangan menyembuhkan.” -Stoikiesme
Seni bicara orang berkelas tidak diukur dari seberapa pandai ia berbicara, tapi dari bagaimana ia menggunakan kata untuk membangun bukan menjatuhkan. Banyak konten, diskusi, obrolan atau bahkan talkshow yang ditampilkan di media itu kadang bukan membangun, melainkan menjatuhkan, bahkan merusak mental.
Filsafat stoik mengajarkan, “Kendalikan lidahmu sebagaimana kamu mengendalikan pikiranmu.” Kata-kata yang lahir dari amarah cenderung menghancurkan, sementara kata yang lahir dari ketenangan akan menyembuhkan. Karenanya berbicaralah dengan niat memberi makna bukan sekadar ingin didengar.
Orang berkelas tahu, kapan harus berbicara dan kapan mendengarkan. Jadilah orang berkelas yang bijak berbicara. Pilihan kata yang menenangkan, bukan memanas-manasi. Kalimat yang menjernihkan, bukan menghakimi. Karena dalam ucapan tercermin kedewasaan batin. Ingat yang benar-benar berkelas itu adalah mereka yang mampu menjaga ucapannya, bahkan saat emosinya diuji.
Deo gratias.
Rm RP Rio, Scj

