Hadiah utama dan teristimewa bagi kita pada hari Minggu Paskah ialah kebangkitan Yesus Kristus dari kematian. Peristiwa itu sungguh jadi karunia terbesar sehingga dengan percaya akan kebenarannya, kita menaruh iman pada sumber dan dasar yang sebenarnya. Hadiah terbesar ini melahirkan banyak hadiah Paskah yang lain, ialah sejumlah penampakan Yesus yang bangkit. Di setiap peristiwa penampakan itu Yesus memberikan makna pada misteri kebangkitan-Nya.
Penampakan Yesus kepada dua orang murid dalam perjalanan ke Emaus itu menggambarkan Yesus bagai seorang asing yang menegur kita dengan berkata: Betapa kecil pemahaman kalian! Betapa lamban kemampuan kalian untuk percaya! Karena keterbatasan kita untuk mengenali dan mengakui-Nya, Yesus yang bangkit akan membuka indra, pikiran, dan hati kita supaya dapat menyambut Dia dengan sikap sebagai orang yang percaya. Untuk keterbatasan seperti ini, Ia memberikan jalan bagi kita untuk dapat mengenal Dia melalui dua instrumen utama, yaitu penafsiran Kitab Suci dan pemecahan roti Ekaristi (Lukas 24, 35).
Hadiah Paskah terbaik Yesus bagi kita ialah firman-Nya yang dijelaskan dengan tepat dan benar, dan Ekaristi yang merupakan kenangan peristiwa Paskah pertama yang Ia sendiri lakukan. Penampakan fisik yang dialami murid ke Emaus, demikian juga serangkaian penampakan fisik lainnya, memiliki makna yang sama dengan aneka pengalaman akan penampakan Yesus kepada kita masing-masing secara rohani.
Kristus yang bangkit meminta perhatian dan ketaatan kita yang mengalami Dia. Jika momen kehadiran Dia yang bangkit tidak diikuti, kita bakal kehilangan cahaya kebenaran yang hendak Ia sampaikan kepada kita.
Perhatian dan ketaatan kita tertuju kepada Dia, yaitu di tempat dan saat kita berjumpa dengan-Nya. Pada waktu dan saat firman-Nya diwartakan itu sikap yang sangat diperlukan, ialah kita membuka diri, mendengar, dan memahami. Biasanya kalau sikap-sikap ini tidak diberi fokus dengan baik dan benar, kehadiran Tuhan akan kurang disadari, bahkan luput dari perhatian kita, dan makna perkataan-Nya akan menghilang seperti angin lalu. Demikian juga pada waktu Ekaristi dirayakan dan disambut, sikap kita yang layak ialah membuka diri, suasana batin yang bersih, dan menjadikan pribadi kita rumah yang nyaman, supaya Tuhan berkenan menetap dan menyertai kita setiap saat. Jika sikap ini tidak dibiasakan, Ekaristi hanya akan jadi kegiatan yang tidak mempunyai pengaruh dalam hidup seseorang.
“Ya, Tuhan Yesus Kristus, mampukan kami untuk mengenali-Mu dalam setiap saat hidup kami. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

