“Ketika orang itu melihat, bahwa Petrus dan Yohanes hendak masuk ke Bait Allah, ia meminta sedekah” (Kis 3: 3).
Seorang anak pulang ke rumah dengan sepeda yang rusak. Dengan nada kesal, ia segera meminta uang kepada Ayahnya untuk memperbaiki sepeda itu, sambil terus mengomel karena kejadian yang dialaminya.
Sang Ayah memandang anaknya dengan sabar dan berusaha menenangkannya. Tapi anak itu tetap mendesak agar keinginannya segera dipenuhi. Sang Ayah mengajak anaknya untuk melihat bagian sepeda yang rusak dan mengarahkan agar memperhatikan kerusakannya. Ia lalu mengajaknya memperbaiki sepeda itu bersama-sama.
Demikian pula dalam keseharian hidup ini, kita sering menginginkan jalan yang paling mudah tanpa sungguh memahami sebenarnya yang dibutuhkan. Ketika relasi tidak berjalan sesuai harapan, kita mudah menyerah; ketika anak bermasalah, kita cenderung mencari jalan pintas; ketika usaha gagal, kita cepat menyalahkan orang lain.
Dalam berdoa juga, kita sering kali berharap agar persoalan segera diangkat dan tuntas. Tapi Tuhan melihat lebih dalam dari sekadar permintaan lahiriah. Ia ingin membentuk hati kita, memberi kekuatan, harapan, martabat, dan keberanian untuk bertumbuh. Tuhan mengajak kita untuk tenang, melihat akar persoalan, dan memperbaikinya bersama-Nya.
Sr. M. Martha, P. Karm
Rabu, 08 April 2026
Kis 3: 1-10 Mzm 105: 1-4.6-9 Luk 24: 13-35
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

