“Aku senantiasa memandang kepada Tuhan; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah” (Mazm 16: 8).
Daud menegaskan, bahwa kehadiran Tuhan membuatnya tetap teguh. Dalam terang kebangkitan, kita melihat pemenuhan ayat ini secara sempurna: Kristus yang hidup benar-benar berada di sisi kita. Kehadiran-Nya dalam Ekaristi dan dalam hati kita menjadikan kita tidak mudah goyah menghadapi tantangan hidup.
Kebangkitan Yesus dari kematian mengingatkan kita, bahwa Ia adalah Allah yang hidup. Ia adalah Sang Immanuel, Allah yang senantiasa menyertai kita. Ia hadir dalam Ekaristi, dalam rupa Roti yang kita sambut dan hadir, ketika kita memuji serta menyembah-Nya dalam adorasi Sakramen Mahakudus.
Kita adalah bait Allah. Tuhan bersemayam di kedalaman hati ini dan setiap saat kita dapat memandang-Nya dengan iman. Dengan iman kita dapat merasakan kehadiran-Nya yang membebaskan dari dosa, kelemahan, dan segala keterbatasan kita.
Semoga Yesus yang bangkit menyalakan kembali kasih kita kepada-Nya. Ketika kita memandang Allah dan membiarkan diri dipandang oleh-Nya, Ia meninggalkan jejak cinta kasih dalam jiwa kita, yakni kasih yang menyalakan hati ini untuk mengasihi Allah, sesama, dan diri sendiri.
Sr. M Yoanita, P. Karm
Senin, 06 April 2026
Kis 2: 14.22-32 Mzm 16: 1-2.5.7-11 Mat 28: 8-15
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

