1.
Halleluia
Puncak Revolusi Kasih Sayang disingkap
Cahaya Ilahi kalahkan darah luka kematian
Terang Maha Suci mahkotai harapan
agar terang dan gulita sertai kesadaran
Bahwa sejatinya pikiran harus bercahaya
untuk menerangi langkah ziarah kelana
di tengah dunia di antara sesama
Cahaya revolusi kasih sayang
mengantar pribadi kembali ke dalam diri
Sinar Cinta Ilahi menyapa pribadi
agar ingat hakikat diri sejati
2.
Halleluia…
Angin sepoi setia menulis nafas
Debu tanah taat merangkul telapak
Senandung semesta lestari bernyanyi
Adakah manusia selalu menyadari
Apakah pikiran taat berterima kasih
Apakah hati nurani terus menjaga harmoni
Adakah sanubari jiwa membagi cinta kasih sayang
Revolusi kasih sayang Ilahi
menulis fakta amal kasih pribadi
mencatat realita kasih sayang kita
di tengah dunia dan sesama
3.
Halleluia
Revolusi kasih sayang lestari
Cinta Allah tetap abadi
Kasih sayang Allah lestari
Tak pernah berhenti dan mengadili cahaya mentari
Namun,
ada yang ritual nyalakan sejuta lilin
meskipun terus ciptakan iri dengki
Ada yang yaqin membakar cahaya mentari
dengan aneka senjata dan teknologi
Kebangkitan kreasi insani melawan kehendak Ilahi
Kemiskinan dan ketidak-adilan seperti takdir abadi
Konflik dan perang terus terjadi
Apakah ini amal kebangkitan sejati insani?
4.
Halleluia…
Revolusi kasih sayang menggugat
kebangkitan kesadaran hakiki insani
tentang harkat martabat diri sejati
Tentang kemauan untuk berterima kasih
kepada sesama dan isi alam semesta
tentang kebiasaan untuk bersyukur
kepada Sang Ilahi atas kasih sayang-Nya
Kata dan perbuatan adalah buah pikiran
Entah kebangkitan selera atau kebangkitan rohani
5.
Halleluia…
Revolusi kasih sayang menagih
pada semua pribadi di zaman ini
terutama yang rayakan ritual kebangkitan
“Iman tanpa perbuatan adalah mati
Kebangkitan tanpa amal kasih adalah halusinasi”
Adakah kebangkitan pribadi dalam ritual dan sejuta nyala lilin
Apakah kebangkitan itu api perang dengan senjata dan teknologi
Masihkah manusia membutuhkan harmoni dan damai
Kebangkitan itu hari ini dan di sini
Bersama debu tanah yang dipijak
Bersama desir angin bagi nafas
Bersama mentari yang selalu bercahaya

