Kebangkitan itu bisa dimaknai, pertama-tama sebagai gerakan atau tindakan. Misalnya, saat sudah nyaman duduk, tiba-tiba diminta untuk berdiri; sudah selonjor nonton televisi, membuka handphone, tiba-tiba diminta ikut latihan kor untuk perayaan Malam Paskah; sedang nyaman dan santai di rumah sambil menikmati kopi kesukaan, tiba-tiba diminta kerja bakti; sudah senang melayani di suatu Paroki, tiba-tiba diminta pindah tugas ke Seminari. Demikian beberapa contoh sederhana bangkit yang bermakna gerakan atau tindakan. Bila direnungkan secara mendalam, kita dapat menemukan, “Bukankah dosa itu kerap kali menimbulkan rasa nyaman, dan pertobatan adalah bangkit meninggalkan kenyamanan dosa menuju hidup sebagai saksi-saksi Kristus?”
Maria Magdalena dan Maria yang lain pergi menengok kubur Yesus. Kata pergi juga adalah sebuah gerakan, tindakan. Apa yang dilakukan dua perempuan ini menunjukkan adanya kebangkitan dari rasa takut, didorong oleh cinta yang mendalam pada Guru mereka. Sebaliknya, para penjaga sangat ketakutan saat kebangkitan Yesus dikabarkan. Batu ketakutan makin terguling, karena Yesus yang bangkit menyapa dua perempuan ini, “Salam bagimu. Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.”
Pengalaman Paskah hendaknya menggulingkan rasa takut yang kerap kali membuat kita nyaman dalam sedih dan keterpurukan; menggulingkan rasa takut, karena kegelapan dosa, dan merasa tidak pantas. Pengalaman Paskah memberikan kepada kita harapan, seperti halnya lilin Paskah yang menyala dalam kegelapan.
Semoga kita dibangkitkan kembali untuk jadi saksi kasih dan sukacita di ‘Galilea’ hidup kita sehari-hari.
“Ya, Tuhan bantulah kami untuk tidak terjebak dalam kegelapan dan ketakutan, tapi selalu mengingat Engkau, Sang Sumber Pengharapan. Mampukanlah kami untuk berani jadi saksi sukacita kebangkitan-Mu bagi sesama. Amin.
…
Ziarah Batin

